Introduction
Bagian pendahuluan artikel ini memberikan gambaran yang sangat baik mengenai pentingnya pendidikan dalam konteks perkembangan sosial dan pembangunan berkelanjutan, serta perubahan besar dalam metode pembelajaran di abad ke-21. Artikel ini menyoroti transformasi pendidikan dari sekadar menghafal fakta menjadi pendekatan yang lebih holistik, yang mencakup pengembangan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, dan keterampilan komunikasi.
Poin Utama dalam Pendahuluan:
- Pentingnya Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan: Penulis memulai dengan menjelaskan bahwa pendidikan adalah pendorong utama bagi pertumbuhan sosial dan pembangunan berkelanjutan. Hal ini memberikan konteks yang relevan mengenai tujuan studi yang ingin melihat bagaimana pendidikan di masa kini, khususnya pendidikan guru prasekolah, dapat beradaptasi dengan kebutuhan abad ke-21.
- Perubahan dalam Pemahaman Proses Pembelajaran: Artikel ini juga mencatat bahwa cara kita memahami proses belajar telah berubah seiring waktu. Tidak lagi hanya sekedar memori fakta, tetapi juga mencakup keterampilan untuk memecahkan masalah, berinovasi, dan berkomunikasi. Ini menjadi dasar penting bagi pembahasan konsep keterampilan abad ke-21 yang penting dalam konteks pendidikan prasekolah.
- Keterampilan 21st Century: Penulis menekankan bahwa di dunia yang cepat berubah ini, siswa harus dipersiapkan dengan keterampilan yang memungkinkan mereka untuk menghadapi tantangan masa depan. Selain keterampilan teknis, penting juga untuk mengembangkan keterampilan sosial, seperti kepemimpinan, tanggung jawab, dan inisiatif. Keterampilan ini sangat relevan dengan tujuan penelitian yang ingin mengembangkan kemampuan self-directed learning (SDL) di kalangan calon guru prasekolah.
- Self-Directed Learning (SDL) sebagai Fokus Utama: Penulis memperkenalkan SDL sebagai salah satu keterampilan utama yang diperlukan untuk pembelajaran di abad ke-21. SDL mencakup inisiatif dalam menetapkan tujuan, mencari sumber daya yang relevan, serta mengevaluasi dan merefleksikan pembelajaran. Pendekatan ini memberi siswa kontrol penuh atas pembelajaran mereka dan mengembangkan keterampilan belajar mandiri yang sangat penting untuk karier di masa depan. Dalam konteks penelitian ini, SDL sangat relevan bagi calon guru prasekolah, yang harus memiliki kemampuan untuk merancang dan mengelola pembelajaran anak-anak secara mandiri.
- Relevansi dalam Konteks Pandemi COVID-19: Salah satu poin penting yang diangkat dalam pendahuluan adalah dampak pandemi COVID-19 terhadap pendidikan. Penulis menyoroti bahwa pandemi menyebabkan perubahan signifikan dalam cara pendidikan dilakukan, dengan banyak institusi beralih ke pembelajaran daring. Dalam konteks ini, penulis ingin mengeksplorasi bagaimana berbagai model pembelajaran (tatap muka, jarak jauh, dan hibrida) memengaruhi perkembangan SDL di kalangan calon guru prasekolah.
Theoretical Framework
Bagian Theoretical Framework pada artikel ini memaparkan landasan konseptual yang relevan untuk menjelaskan hubungan antara Self-Directed Learning (SDL), Self-Regulated Learning (SRL), dan dinamika pembelajaran dalam konteks pendidikan calon guru prasekolah. Framework ini dirancang untuk mendukung pemahaman tentang bagaimana SDL dapat dipengaruhi oleh berbagai variabel, seperti modalitas pembelajaran (tatap muka, daring, dan hibrida), serta bagaimana SDL berkontribusi terhadap pengembangan keterampilan yang diperlukan di abad ke-21.
Context of the Study
Artikel ini berfokus pada konteks pendidikan calon guru prasekolah di Universitas Ljubljana, Slovenia, dengan perhatian khusus pada pengaruh modalitas pembelajaran (tatap muka, daring, dan hibrida) terhadap pengembangan keterampilan Self-Directed Learning (SDL). Berikut adalah elemen-elemen utama dalam konteks studi:
Latar Belakang Pendidikan Calon Guru Prasekolah
- Pendidikan prasekolah memiliki peran penting dalam perkembangan awal anak, khususnya dalam pembentukan keterampilan kognitif, sosial, dan teknis. Oleh karena itu, calon guru prasekolah perlu memiliki keterampilan SDL yang tinggi untuk merancang pembelajaran yang adaptif dan relevan.
- Di Universitas Ljubljana, calon guru mengikuti mata kuliah Technical Education yang bertujuan mengintegrasikan keterampilan desain dan teknologi ke dalam pendidikan prasekolah.
Perubahan Modalitas Pembelajaran Akibat Pandemi COVID-19
- Sebelum pandemi, pembelajaran dilakukan secara tatap muka, tetapi selama pembatasan COVID-19, pembelajaran dialihkan ke pembelajaran daring. Setelah pandemi, beberapa pendekatan hibrida juga diterapkan.
- Pandemi menciptakan tantangan baru, terutama dalam hal interaksi sosial dan penggunaan teknologi, yang berdampak pada pengembangan SDL.
Struktur Pendidikan
- Mahasiswa penuh waktu biasanya mengikuti pembelajaran langsung di kelas dan praktik kelompok di taman kanak-kanak. Sebaliknya, mahasiswa paruh waktu, yang mayoritas sudah bekerja sebagai guru, mengikuti praktik secara individu di tempat kerja mereka.
- Penelitian ini mencakup mahasiswa dari dua kelompok tersebut, yang memberikan sudut pandang beragam terhadap pengaruh modalitas pembelajaran pada SDL.
Sampel Penelitian
- Sampel terdiri dari 418 mahasiswa prasekolah tahun kedua dan ketiga yang terdaftar antara 2018 hingga 2022. Periode penelitian ini mencakup masa sebelum, selama, dan setelah pandemi COVID-19.
Problem Statement and Purpose
Pernyataan Masalah (Problem Statement)
Penulis mengidentifikasi beberapa tantangan utama yang menjadi dasar penelitian ini:
- Kurangnya Penelitian tentang SDL dalam Konteks Beragam Modalitas Pembelajaran:
- SDL di kalangan calon guru prasekolah telah mendapat perhatian terbatas, terutama terkait dampak dari perubahan pembelajaran akibat pandemi.
- Kesenjangan Penelitian tentang Pengaruh Modalitas Pembelajaran:
- Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada aspek sosial kompetensi, tetapi sedikit yang mengeksplorasi persepsi dan status SDL calon guru prasekolah di berbagai modalitas pembelajaran.
- Perbedaan Pengalaman antara Mahasiswa Penuh Waktu dan Paruh Waktu:
- Mahasiswa paruh waktu cenderung lebih akrab dengan praktik pedagogis karena bekerja di taman kanak-kanak, tetapi mereka mungkin memiliki tantangan berbeda dibandingkan mahasiswa penuh waktu dalam mengembangkan SDL.
Tujuan Penelitian (Purpose)
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan berikut:
- Memahami Perbedaan dalam SDL:
- Meneliti bagaimana berbagai modalitas pembelajaran (tatap muka, daring, dan hibrida) memengaruhi SDL calon guru prasekolah.
- Mengidentifikasi Profil SDL:
- Mengklasifikasikan mahasiswa berdasarkan tingkat SDL mereka selama periode sebelum, selama, dan setelah pandemi COVID-19.
- Menyediakan Wawasan untuk Pengembangan Kurikulum:
- Memberikan masukan bagi institusi pendidikan tinggi untuk merancang kurikulum berbasis teknologi yang dapat mendukung pengembangan SDL, terutama dalam menghadapi pembelajaran daring.
Methodology
1. Desain Penelitian
- Jenis Penelitian:
- Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional), yang cocok untuk mengukur variabel SDL pada kelompok peserta didik dalam berbagai periode dan kondisi pembelajaran.
- Analisis data mencakup statistik deskriptif, ANOVA faktorial 2 × 3, dan analisis kluster dua langkah.
- Variabel Penelitian:
- Variabel Endogen: Tingkat SDL yang dilaporkan oleh mahasiswa.
- Variabel Eksogen: Tipe pendaftaran mahasiswa (penuh waktu atau paruh waktu) dan modalitas pembelajaran (tatap muka sebelum COVID-19, daring selama COVID-19, dan tatap muka pasca-COVID-19).
2. Sampel Penelitian
- Populasi Target:
- Mahasiswa tahun kedua dan ketiga program pendidikan prasekolah di Universitas Ljubljana yang mengambil mata kuliah Technical Education.
- Ukuran Sampel:
- Total 418 mahasiswa, terdiri dari mahasiswa penuh waktu (225 orang) dan paruh waktu (193 orang). Rincian berdasarkan modalitas pembelajaran:
- Pra-COVID-19: 180 mahasiswa (43,1%).
- Selama COVID-19: 136 mahasiswa (32,5%).
- Pasca-COVID-19: 102 mahasiswa (24,4%).
- Total 418 mahasiswa, terdiri dari mahasiswa penuh waktu (225 orang) dan paruh waktu (193 orang). Rincian berdasarkan modalitas pembelajaran:
- Metode Pengambilan Sampel:
- Teknik stratifikasi acak digunakan untuk memastikan representasi dari berbagai modalitas pembelajaran dan tipe mahasiswa.
3. Pengumpulan Data
- Instrumen:
- Penelitian menggunakan kuesioner SDL berbasis skala Self-Directed Learning Questionnaire oleh Williamson (60 item). Instrumen ini mencakup lima subskala:
- Awareness,
- Learning Strategies,
- Learning Activities,
- Evaluation, dan
- Interpersonal Skills.
- Setiap item menggunakan skala Likert 5 poin, dengan skor total maksimum 300.
- Penelitian menggunakan kuesioner SDL berbasis skala Self-Directed Learning Questionnaire oleh Williamson (60 item). Instrumen ini mencakup lima subskala:
- Prosedur Pengumpulan Data:
- Data dikumpulkan pada akhir semester melalui kuesioner daring atau secara langsung, tergantung pada modalitas pembelajaran mahasiswa.
- Responden yang tidak menyelesaikan kuesioner atau gagal dalam pertanyaan pemeriksaan perhatian dikeluarkan dari analisis akhir.
4. Prosedur Analisis Data
- Uji Reliabilitas dan Validitas:
- Reliabilitas diukur menggunakan koefisien McDonald’s Omega (semua subskala > 0,7).
- Validitas diuji melalui koefisien korelasi Pearson (semua item > 0,6), menunjukkan validitas yang baik.
- Teknik Analisis:
- Deskriptif Statistik: Digunakan untuk menggambarkan karakteristik data.
- ANOVA Faktorial 2 × 3:
- Menganalisis pengaruh gabungan tipe mahasiswa (penuh waktu vs paruh waktu) dan modalitas pembelajaran terhadap lima dimensi SDL.
- Analisis Kluster:
- Mengidentifikasi profil SDL mahasiswa menggunakan kluster hierarkis dan metode k-means.
- Visualisasi Data: Diagram panas (heat map) digunakan untuk menunjukkan efek signifikan dan ukuran efek (partial eta squared).
5. Pertimbangan Etika
- Penelitian mengikuti pedoman etika Universitas Ljubljana, termasuk perlindungan data berdasarkan General Data Protection Regulation (GDPR).
- Persetujuan partisipasi didapatkan secara sukarela, tanpa insentif atau penalti untuk tidak berpartisipasi.
Result/Findings
1. Hasil Deskriptif
- Tingkat SDL Mahasiswa:
- Skor rata-rata SDL mahasiswa adalah 244,67 dari 300 (SD = 26,42), menunjukkan tingkat SDL yang tinggi secara keseluruhan.
- Sebagian besar mahasiswa (81%) berada pada kategori tingkat SDL tinggi, sementara 19% berada di tingkat menengah. Tidak ada mahasiswa yang menunjukkan tingkat SDL rendah.
- Distribusi Berdasarkan Modalitas Pembelajaran:
- Pra-COVID-19: Mahasiswa cenderung memiliki tingkat SDL lebih tinggi pada subdimensi Awareness dan Learning Strategies.
- Selama COVID-19: Tingkat SDL menurun pada beberapa subdimensi seperti Interpersonal Skills dan Evaluation.
- Pasca-COVID-19: Ada peningkatan kembali pada tingkat SDL, terutama dalam Learning Activities dan Interpersonal Skills.
2. Hasil ANOVA Faktorial
ANOVA 2 × 3 digunakan untuk menganalisis pengaruh dua variabel independen (tipe pendaftaran dan modalitas pembelajaran) terhadap lima subdimensi SDL.
- Efek Utama Modalitas Pembelajaran:
- Modalitas pembelajaran memiliki pengaruh signifikan terhadap semua subdimensi SDL (p < 0.05), dengan perbedaan terbesar pada Interpersonal Skills dan Learning Strategies.
- Pembelajaran daring selama COVID-19 menunjukkan tingkat SDL yang lebih rendah dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka sebelum dan setelah pandemi.
- Efek Utama Tipe Pendaftaran (Penuh Waktu vs Paruh Waktu):
- Mahasiswa penuh waktu melaporkan tingkat SDL lebih tinggi pada subdimensi Awareness dan Evaluation dibandingkan dengan mahasiswa paruh waktu.
- Mahasiswa paruh waktu lebih unggul dalam Interpersonal Skills karena mereka sering berinteraksi dengan anak-anak di lingkungan kerja mereka.
- Efek Interaksi:
- Terdapat interaksi signifikan antara modalitas pembelajaran dan tipe pendaftaran pada semua subdimensi SDL. Misalnya, mahasiswa penuh waktu lebih terpengaruh oleh peralihan ke pembelajaran daring dibandingkan mahasiswa paruh waktu.
3. Hasil Analisis Kluster
Analisis kluster dua langkah menghasilkan tiga kelompok utama berdasarkan tingkat SDL mahasiswa:
- Kluster Rendah (19,14%):
- Mahasiswa dengan skor rendah pada semua subdimensi SDL.
- Kluster Sedang (43,30%):
- Mahasiswa dengan keterlibatan yang lebih tinggi dalam Awareness dan Interpersonal Skills, tetapi rendah dalam Learning Activities.
- Kluster Tinggi (33,25%):
- Mahasiswa dengan skor tinggi pada semua subdimensi SDL, terutama dalam Interpersonal Skills.
Discussion and Implications
1. Interpretasi Temuan
- Pengaruh Modalitas Pembelajaran:
- Penurunan tingkat SDL selama pembelajaran daring menunjukkan bahwa lingkungan daring menghadirkan tantangan signifikan, seperti kurangnya interaksi langsung, motivasi yang menurun, dan keterbatasan teknologi. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pembelajaran daring membutuhkan keterampilan metakognitif yang lebih tinggi.
- Peningkatan tingkat SDL setelah pandemi mengindikasikan bahwa pembelajaran tatap muka membantu memperkuat kembali keterampilan Interpersonal Skills dan Learning Activities.
- Perbedaan antara Mahasiswa Penuh Waktu dan Paruh Waktu:
- Mahasiswa paruh waktu cenderung memiliki Interpersonal Skills yang lebih baik karena mereka memiliki pengalaman kerja di lapangan. Sebaliknya, mahasiswa penuh waktu lebih mengandalkan lingkungan akademik untuk mengembangkan SDL.
- Profil SDL Mahasiswa:
- Analisis kluster menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa berada pada tingkat SDL sedang hingga tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa program pembelajaran di universitas sudah cukup mendukung pengembangan SDL, tetapi masih ada ruang untuk peningkatan.
2. Implikasi Penelitian
- Untuk Pendidikan Tinggi:
- Universitas perlu merancang kurikulum yang lebih mendukung SDL dalam berbagai modalitas pembelajaran, terutama untuk pembelajaran daring. Hal ini mencakup penggunaan teknologi yang lebih efektif dan pelatihan keterampilan metakognitif.
- Penguatan Interpersonal Skills dan Evaluation harus menjadi fokus dalam pembelajaran daring untuk mengimbangi kekurangan interaksi langsung.
- Untuk Calon Guru Prasekolah:
- Calon guru perlu dilatih untuk menghadapi tantangan pembelajaran daring, terutama dalam mengelola waktu, menetapkan tujuan pembelajaran, dan menggunakan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran.
- Program pengembangan profesional harus mencakup strategi untuk meningkatkan Learning Activities dan Evaluation.
- Kebijakan Pendidikan:
- Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk merancang kebijakan yang lebih adaptif terhadap perubahan modalitas pembelajaran, terutama dalam situasi darurat seperti pandemi.
3. Keterbatasan dan Rekomendasi untuk Penelitian Lanjutan
- Keterbatasan:
- Penelitian hanya dilakukan di satu universitas di Slovenia, sehingga hasilnya mungkin tidak dapat digeneralisasi ke konteks internasional.
- Data yang dikumpulkan bersifat self-reported, yang mungkin memiliki bias subjektivitas.
- Rekomendasi:
- Penelitian selanjutnya dapat menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang pengalaman mahasiswa.
- Studi lintas budaya diperlukan untuk mengeksplorasi bagaimana modalitas pembelajaran memengaruhi SDL di berbagai negara dan sistem pendidikan.
Critical Analysis
1. Kekuatan Artikel
- Relevansi Topik:
- Topik tentang Self-Directed Learning (SDL) sangat relevan dalam konteks pendidikan abad ke-21 dan perubahan besar akibat pandemi COVID-19. Fokus pada calon guru prasekolah memberikan kontribusi baru pada literatur yang umumnya lebih fokus pada pendidikan dasar atau tinggi.
- Desain Penelitian yang Sistematis:
- Penggunaan desain potong lintang dan analisis statistik yang kuat (ANOVA faktorial dan analisis kluster) memberikan hasil yang terpercaya dan mendalam.
- Pembagian data berdasarkan modalitas pembelajaran (pra-COVID-19, selama COVID-19, dan pasca-COVID-19) relevan untuk mengukur dampak situasi yang unik.
- Instrumentasi yang Valid dan Reliabel:
- Penggunaan skala SDL yang teruji memastikan keandalan hasil, dengan pendekatan pengukuran yang mencakup lima dimensi SDL.
- Analisis Mendalam:
- Artikel tidak hanya melaporkan hasil statistik tetapi juga menginterpretasikan implikasi praktis dan teoretis dari temuan, khususnya dalam konteks desain kurikulum dan pedagogi.
2. Kelemahan Artikel
- Keterbatasan Sampel:
- Penelitian dilakukan hanya di satu universitas di Slovenia, sehingga hasilnya mungkin tidak mewakili konteks internasional atau budaya yang berbeda.
- Kelemahan Metodologi:
- Instrumen berbasis laporan diri (self-reported questionnaire) rentan terhadap bias subjektivitas, seperti respon sosial yang diinginkan.
- Konteks Daring yang Kurang Mendalam:
- Sementara temuan menunjukkan dampak negatif pembelajaran daring pada SDL, artikel tidak mengeksplorasi mekanisme mendalam yang menyebabkan penurunan tersebut (misalnya, hambatan teknologi, interaksi sosial, atau kendala motivasi).
- Kurangnya Data Kualitatif:
- Pendekatan kuantitatif yang digunakan memberikan hasil yang terukur tetapi kurang memberikan wawasan tentang pengalaman mahasiswa. Studi kualitatif dapat melengkapi analisis ini.
- Pengaruh Faktor Eksternal:
- Artikel tidak secara eksplisit membahas bagaimana faktor eksternal seperti kebijakan pendidikan, akses teknologi, atau tekanan ekonomi selama pandemi memengaruhi SDL.
3. Peluang untuk Pengembangan
- Studi lintas budaya atau internasional dapat memberikan wawasan lebih luas tentang perbedaan SDL di berbagai negara.
- Pendekatan campuran (kuantitatif dan kualitatif) dapat mengeksplorasi pengalaman peserta didik secara lebih holistik.
- Penelitian jangka panjang dapat menilai perkembangan SDL secara berkesinambungan dalam modalitas pembelajaran yang berubah.
Lesson Learned (Contribution)
1. Kontribusi Teoretis
- Artikel ini memperkuat teori bahwa SDL adalah keterampilan penting di abad ke-21 yang dipengaruhi oleh variabel kontekstual, seperti modalitas pembelajaran dan tipe pendaftaran mahasiswa.
- Hubungan antara Self-Determination Theory (SDT) dan SDL dikuatkan melalui temuan bahwa motivasi intrinsik, relasi, dan otonomi memengaruhi perkembangan SDL.
- Menunjukkan bahwa pembelajaran daring memiliki dampak yang signifikan pada pengembangan SDL, menambahkan bukti pada literatur yang masih berkembang tentang pembelajaran daring selama pandemi.
2. Kontribusi Praktis
- Untuk Pendidikan Tinggi:
- Kurikulum perlu dirancang untuk memperkuat SDL melalui pendekatan yang interaktif, baik dalam pembelajaran daring maupun tatap muka.
- Teknologi harus digunakan secara strategis untuk mendukung pengembangan keterampilan metakognitif dan interpersonal.
- Untuk Pendidikan Prasekolah:
- Calon guru perlu dibekali keterampilan untuk memfasilitasi SDL pada anak-anak prasekolah, mengingat pentingnya periode ini untuk perkembangan kognitif dan sosial.
- Penggunaan teknologi dalam pendidikan prasekolah harus diarahkan untuk membangun keterampilan berpikir kritis dan kreatif.
- Untuk Kebijakan Pendidikan:
- Penelitian ini memberikan dasar empiris bagi pembuat kebijakan untuk mendesain program pelatihan guru yang mendukung SDL dalam berbagai modalitas pembelajaran.
3. Pelajaran yang Dapat Diambil
- Adaptasi Pembelajaran: Modalitas pembelajaran yang berbeda memengaruhi SDL dengan cara yang unik, sehingga fleksibilitas dalam desain kurikulum menjadi kunci.
- Peran Teknologi: Teknologi yang digunakan dengan tepat dapat mendukung pengembangan SDL, tetapi perlu dikombinasikan dengan pendekatan interaktif dan berbasis relasi.
- Pentingnya Interaksi Sosial: Penurunan Interpersonal Skills selama pembelajaran daring menyoroti pentingnya menjaga elemen sosial dalam pendidikan, bahkan dalam lingkungan digital.
