Buku dengan judul “Comparative and International Education: Leading Perspectives from the Field” adalah eksplorasi komprehensif tentang bidang pendidikan komparatif dan internasional yang terus berkembang. Diedit oleh Beverly Lindsay, buku ini membahas dimensi pendidikan dari perspektif global dengan mendalam, menawarkan wawasan dari sudut pandang historis, teoretis, dan penelitian terapan.

“Pendidikan Komparatif dan Internasional: Perspektif Terkemuka dari Lapangan” adalah karya seminal yang menawarkan pemahaman holistik tentang bidang pendidikan komparatif dan internasional. Melalui berbagai babnya, buku ini menekankan pentingnya pendidikan dalam membentuk narasi global, mendorong dialog antarbudaya, dan mempromosikan keharmonisan sosial. Para kontributor dalam volume ini membawa kekayaan keahlian, menggabungkan ketelitian akademik dengan wawasan praktis, menjadikannya sumber daya yang sangat berharga bagi cendekiawan, pendidik, pembuat kebijakan, dan siswa. Berikut adalah ulasan per masing-masing bab nya.

1. The Landscapes for Comparative and International Education

Dalam bab pertama yang berjudul “The Landscapes for Comparative and International Education,” Beverly Lindsay memberikan pandangan mendalam tentang lanskap pendidikan komparatif dan internasional. Bab ini bertujuan untuk menyoroti tujuan dan tujuan keseluruhan volume buku tersebut.

Beberapa poin penting dari bab ini meliputi:

  1. Konteks Sejarah: Bab ini menyoroti bahwa pendidikan telah diajarkan di perguruan tinggi dan universitas selama berabad-abad. Bidang “pendidikan komparatif dan internasional” adalah fenomena abad ke-20, namun terdapat penulis pada 1800-an yang telah mengeksplorasi topik ini.
  2. Pertanyaan Kunci: Bab ini mengajukan beberapa pertanyaan penting yang relevan dengan bidang “pendidikan komparatif dan internasional”, seperti : Bagaimana aspek-aspek pendidikan komparatif dan internasional dan dampak berkelanjutannya? Bagaimana pendidikan telah dipelajari dari periode historis hingga era kontemporer?
  3. Pendekatan Multidisiplin: Bab ini menekankan pentingnya melibatkan berbagai disiplin ilmu atau bidang studi dalam pendidikan komparatif dan internasional. Dengan kata lain, pendidikan komparatif dan internasional tidak hanya relevan bagi satu bidang studi saja, tetapi juga bagi berbagai bidang lainnya. Selanjutnya, ada pertanyaan atau keingintahuan tentang seberapa besar keterlibatan atau respons fakultas-fakultas dan disiplin ilmu lain di sebuah universitas terhadap pendidikan komparatif dan internasional. Misalnya, apakah fakultas teknik atau fakultas seni di sebuah universitas juga mempertimbangkan pendekatan pendidikan komparatif dan internasional dalam kurikulum mereka? Atau apakah mereka terbuka untuk berkolaborasi dengan departemen atau divisi yang fokus pada pendidikan komparatif dan internasional? Bab ini ingin menyoroti bahwa pendidikan komparatif dan internasional seharusnya menjadi perhatian bersama dan melibatkan berbagai disiplin ilmu, bukan hanya terbatas pada satu bidang studi saja.
  4. Model Kurikulum: Dalam konteks pendidikan komparatif dan internasional, penting untuk memiliki kurikulum yang beragam dan inklusif. Kurikulum yang beragam memastikan bahwa siswa mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang berbagai aspek pendidikan dari perspektif global. Ketika berbicara tentang lulusan program master dan doktoral, tujuannya adalah untuk mempersiapkan mereka tidak hanya untuk karier akademik tetapi juga untuk posisi kepemimpinan di berbagai sektor, termasuk pemerintah, LSM, organisasi internasional, dan sektor swasta. Untuk mencapai ini, kurikulum harus dirancang dengan cara yang memadukan teori dengan praktek.
  5. Pentingnya Penelitian: Penelitian dan keterlibatan publik dianggap sebagai fitur sentral universitas. Bab ini menekankan pentingnya penelitian dan keterlibatan publik dalam pendidikan komparatif dan internasional.

Secara keseluruhan, bab ini memberikan gambaran umum tentang pentingnya pendidikan komparatif dan internasional dalam konteks global saat ini. Ini menyoroti tantangan, peluang, dan pertanyaan kunci yang relevan dengan bidang ini, serta menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin dan integratif. Bab ini bertujuan untuk memberikan kerangka kerja konseptual untuk diskusi yang lebih mendalam dalam bab-bab berikutnya dalam buku tersebut.

2. The Changing Face of Comparative Education: A Personal Retrospective

Dalam bab kedua yang ditulis oleh Martin Carnoy, judul “The Changing Face of Comparative Education: A Personal Retrospective” menyoroti evolusi bidang pendidikan komparatif selama beberapa dekade. Carnoy menggunakan posisinya sebagai seorang ilmuwan senior dan mantan presiden Comparative International Education Society (CIES) untuk merefleksikan perkembangan bidang ini selama masa penelitiannya.

Martin Carnoy memberikan refleksi atau retrospeksi pribadi tentang perjalanannya dalam bidang pendidikan komparatif. Dia mengungkapkan bahwa ketika dia pertama kali memulai penelitiannya sebagai mahasiswa pascasarjana dan beberapa tahun setelahnya, dia tidak sepenuhnya menyadari atau mengidentifikasi dirinya sebagai seseorang yang bekerja dalam bidang pendidikan komparatif dan internasional. Mungkin saat itu, dia melihat penelitiannya sebagai studi pendidikan umum atau mungkin dalam konteks yang lebih spesifik, tetapi tidak secara eksplisit sebagai “pendidikan komparatif.”

Namun, saat dia melihat kembali dan merefleksikan karyanya selama bertahun-tahun, terutama di sekitar dekade 1970-an, dia mulai menyadari betapa signifikannya perubahan dalam bidang pendidikan komparatif dan bagaimana penelitiannya sebenarnya telah berkontribusi pada bidang tersebut. Dengan kata lain, retrospeksi ini adalah upaya Carnoy untuk melihat kembali dan memahami bagaimana pandangannya dan pemahamannya tentang pendidikan komparatif telah berkembang dan berubah seiring berjalannya waktu.

Globalisasi adalah proses di mana negara-negara di seluruh dunia menjadi semakin terhubung dan saling tergantung satu sama lain, baik dalam hal ekonomi, sosial, politik, maupun budaya. Fenomena ini telah mempengaruhi banyak aspek kehidupan, termasuk pendidikan.

Pada dekade 1990-an, dampak globalisasi semakin dirasakan dalam bidang pendidikan. Salah satu dampaknya adalah meningkatnya pengaruh dari organisasi internasional, seperti UNESCO atau Bank Dunia, dalam pembuatan kebijakan pendidikan di berbagai negara. Organisasi-organisasi ini seringkali memberikan rekomendasi atau standar tertentu yang diharapkan dapat diterapkan oleh negara-negara anggotanya.

Selain itu, dengan kemajuan teknologi informasi, munculnya “ekonomi informasi baru”. Ini berarti bahwa pengetahuan dan informasi menjadi aset yang sangat berharga. Dalam konteks pendidikan, hal ini berarti ada kebutuhan untuk mempersiapkan siswa agar mampu bersaing di ekonomi global yang berbasis pengetahuan.

Meskipun globalisasi telah membawa banyak perubahan, penting untuk dicatat bahwa negara-negara tetap memiliki otoritas dan kontrol atas sistem pendidikan mereka sendiri. Artinya, meskipun ada tekanan atau rekomendasi dari organisasi internasional, setiap negara masih memiliki kebebasan untuk memutuskan bagaimana mereka akan membiayai pendidikan mereka, apa kurikulum yang akan diajarkan, bagaimana sistem pendidikan akan direformasi, dan sebagainya.

Carnoy menuliskan bahwa, ada penekanan khusus pada evolusi pendidikan komparatif sebagai bidang studi. Sepanjang sejarah, pendidikan komparatif telah mengalami perubahan dalam cara ia didefinisikan dan dipahami. Awalnya, pendidikan komparatif mungkin berfokus pada perbandingan sederhana antara sistem pendidikan di berbagai negara. Namun, seiring berjalannya waktu, pendekatan ini telah berkembang untuk memasukkan pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang mempengaruhi pendidikan di berbagai konteks. Carnoy menyoroti bagaimana berbagai negara telah mengadaptasi dan mereformasi pendidikan mereka untuk memenuhi kebutuhan dan tantangan unik mereka. Selain itu, dia juga membahas bagaimana teori-teori baru telah dikembangkan dalam bidang ini untuk menjelaskan dan memahami perubahan-perubahan tersebut

Pendidikan komparatif, seperti bidang studi lainnya, telah mengalami evolusi dalam cara dikonseptualisasikan. Artinya, cara orang memahami dan mendefinisikan pendidikan komparatif telah berubah seiring berjalannya waktu. Awalnya, mungkin fokusnya adalah pada perbandingan sederhana antara sistem pendidikan di berbagai negara. Namun, seiring waktu, pendekatan ini menjadi lebih kompleks dengan mempertimbangkan berbagai faktor sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang mempengaruhi pendidikan.

Carnoy menyoroti bagaimana pendidikan komparatif telah dikonseptualisasikan dan dilakukan sepanjang waktu. Ia membandingkan bagaimana berbagai negara mendidik penduduknya, sementara teori-teori dikembangkan untuk perubahan pendidikan.

Dampak Globalisasi pada Pendidikan Komparatif: Globalisasi, dengan meningkatnya konektivitas dan interaksi antar negara, telah mempengaruhi banyak aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Salah satu dampak signifikan globalisasi pada pendidikan komparatif adalah kemudahan dalam pengumpulan data. Sebagai contoh, dengan adanya organisasi internasional dan inisiatif bersama, telah dilakukan berbagai jenis pengujian internasional, seperti PISA (Programme for International Student Assessment) yang diinisiasi oleh OECD. Pengujian semacam ini memungkinkan negara-negara untuk membandingkan kinerja siswa mereka dengan siswa di negara lain.

Selain itu, evaluasi dari hasil pengujian ini memberikan gambaran tentang keberhasilan dan kelemahan sistem pendidikan masing-masing negara. Dengan data dan evaluasi ini, negara-negara dapat memahami di mana mereka berdiri dalam konteks global dan apa yang bisa mereka perbaiki.

Dari perspektif pendidikan komparatif, adanya data yang kaya dari berbagai negara memungkinkan para peneliti untuk melakukan analisis yang lebih mendalam. Mereka dapat membandingkan sistem pendidikan, metode pengajaran, kurikulum, dan hasil belajar dari berbagai negara untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang praktik terbaik dan tantangan yang dihadapi oleh sistem pendidikan di seluruh dunia.

Dengan kata lain, globalisasi, melalui pengujian internasional dan evaluasi, telah memperkaya basis pengetahuan dalam pendidikan komparatif, memungkinkan analisis yang lebih komprehensif dan informasi yang lebih baik untuk reformasi pendidikan.

Relevansi Negara-Negara dalam Konteks Globalisasi:

Globalisasi, sebagai proses di mana dunia menjadi semakin terhubung dan terintegrasi, memang telah membawa banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Organisasi internasional, perusahaan multinasional, dan teknologi informasi telah mempengaruhi cara pendidikan disampaikan, dibiayai, dan dievaluasi di seluruh dunia.

Namun, meskipun ada tekanan dan pengaruh global, kedaulatan dan otoritas negara-negara atas sistem pendidikan mereka tetap kuat. Setiap negara memiliki kebijakan, budaya, sejarah, dan kebutuhan pendidikan yang unik. Oleh karena itu, meskipun mungkin ada rekomendasi atau standar internasional, setiap negara memiliki kebebasan dan otoritas untuk memutuskan bagaimana mereka akan membiayai pendidikan mereka, jenis kurikulum yang akan diajarkan, metode pengajaran yang akan digunakan, dan bagaimana sistem pendidikan akan direformasi sesuai dengan kebutuhan dan konteks lokal mereka.

Dengan kata lain, meskipun globalisasi membawa banyak peluang dan tantangan, negara-negara tetap menjadi aktor utama dalam pengambilan keputusan terkait pendidikan. Mereka memiliki kontrol signifikan dalam menentukan arah dan prioritas pendidikan di wilayah mereka, memastikan bahwa pendidikan tetap relevan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan ekonomi lokal.

Secara keseluruhan, bab ini memberikan gambaran tentang bagaimana pendidikan komparatif telah berubah sepanjang waktu, dengan fokus khusus pada dampak globalisasi dan peran negara-negara dalam pendidikan. Carnoy menawarkan perspektif pribadi yang mendalam tentang evolusi bidang ini, memberikan wawasan berharga tentang tantangan dan peluang yang dihadapi oleh pendidikan komparatif di era global saat ini.berubah sepanjang waktu, dengan fokus khusus pada dampak globalisasi dan peran negara-negara dalam pendidikan. Carnoy menawarkan perspektif pribadi yang mendalam tentang evolusi bidang ini, memberikan wawasan berharga tentang tantangan dan peluang yang dihadapi oleh pendidikan komparatif di era global saat ini.

3. The Dimensions and Uses of Comparative Education: Lessons Gleaned from a Five-Decade Journey

Dalam bab ini, Robert F. Arnove mengeksplorasi evolusi pendidikan komparatif melalui refleksi pribadi yang mencakup lima dekade perjalanannya dalam bidang ini. Bab ini dimulai dengan kutipan dari C. Wright Mills tentang pentingnya menganalisis fenomena sosial sebagai interaksi antara biografi dan sejarah. Banyak karya Robert F. Arnove didasarkan pada pengalaman lapangan di Amerika Latin, khususnya dalam memahami ketidaksetaraan struktural dan mencari kerangka konseptual yang tepat untuk memahami dan memperbaiki sistem pendidikan yang gagal.

Salah satu pendekatan teoretis yang Robert F. Arnove temukan bermanfaat dalam kariernya adalah analisis sistem dunia. Robert F. Arnove telah menggunakan analisis ini bersama dengan perspektif komparatif, sosiokultural, historis, dan filosofis dalam melakukan penelitian tentang hubungan pendidikan-masyarakat. Robert F. Arnove juga menekankan pentingnya melihat penelitian dan pengajaran dalam bidang pendidikan komparatif sebagai sesuatu yang melibatkan tiga dimensi utama: ilmiah/teoretis, pragmatis/amelioratif, dan pemahaman internasional/ global dan perdamaian.

Dalam bab ini, Robert F. Arnove juga membahas pengalamannya saat bekerja untuk Ford Foundation di Bogota, Kolombia. Robert F. Arnove menyadari kekuatan dari yayasan besar seperti Ford, Rockefeller, dan Carnegie dalam menetapkan agenda kebijakan. Robert F. Arnove menekankan bagaimana teori dan kerangka kerja konseptual yang kuat diperlukan untuk memahami dengan lebih baik bagaimana berbagai sistem sosial berfungsi, dengan harapan dapat berkontribusi pada kebijakan publik yang lebih baik dan adil.

Secara keseluruhan, bab ini memberikan wawasan mendalam tentang perubahan dan evolusi dalam pendidikan komparatif dari perspektif pribadi seorang ahli yang telah berkontribusi signifikan dalam bidang ini selama lima dekade.

4. Economics, Development, and Comparative and International Education: Examining the interplay between economic factors and education.

Dalam bab ini, Steven J. Klees mengeksplorasi peran ekonomi dalam pendidikan dan pembangunan, dengan fokus khusus pada kritik terhadap perspektif dominan. Bab ini dimulai dengan diskusi mengenai apa yang salah dengan pendekatan yang diambil oleh paradigma ekonomi neoklasik dominan dan kemudian mempertimbangkan alternatif-alternatifnya. Selanjutnya, Klees mengkritik metode kuantitatif utama yang digunakan oleh ekonom dan ilmuwan sosial lainnya. Dia juga meneliti dampak dari pendidikan dan intervensi kebijakan dan program lainnya terhadap hasil pendidikan dan pembangunan.

Salah satu bagian penting dari bab ini adalah eksplorasi mengenai “pembangunan” dan konsekuensi-konsekuensinya yang mendorong miliaran orang ke pinggiran masyarakat global. Dalam konteks ini, Klees berpendapat bahwa “Ada Banyak Alternatif” yang tersedia.

Pada dasarnya, bab ini menawarkan pandangan kritis tentang bagaimana ekonomi mempengaruhi pendidikan dan pembangunan, serta bagaimana pendidikan komparatif dan internasional dapat memahami dan merespons tantangan dan peluang yang muncul dari interaksi antara faktor-faktor ekonomi dan pendidikan.

5. Comparative Education and the Dialogue Among Civilizations: A discourse on the role of education in fostering intercultural dialogues.

Bab berjudul “Comparative Education and the Dialogue Among Civilizations” ditulis oleh Ruth Hayhoe. Dalam bab ini, Hayhoe merefleksikan peran Pendidikan Komparatif dan Pendidikan Tinggi Komparatif dalam konteks munculnya Dialog Antar Peradaban setelah berakhirnya Perang Dingin. Bab ini menantang dominasi teori yang berasal dari Barat, baik itu teori modernisasi maupun Marxisme.

Hayhoe menyoroti bagaimana pendidikan komparatif telah dipengaruhi oleh teori dan kerangka referensi yang berpusat pada Barat. Dia menantang gagasan bahwa pendidikan komparatif sebagai disiplin universitas atau bidang harus melacak asal-usulnya ke Jullien dari Paris dan rencananya untuk pendidikan komparatif pada tahun 1816. Pendekatan ini mengaitkannya erat dengan munculnya negara bangsa di Eropa, dengan Prancis pasca-Revolusi sebagai contoh utama.

Bab ini juga menyoroti pentingnya dialog antar peradaban dalam pendidikan, terutama dalam konteks agama dan spiritualitas. Hayhoe menekankan bahwa perdamaian dunia akan sulit dicapai tanpa perdamaian di antara agama-agama. Dia mencatat bagaimana berbagai pertemuan, seperti Parlemen Dunia Agama, telah memungkinkan dialog yang mendalam dan berkelanjutan di antara agama-agama dunia yang memiliki implikasi pendidikan yang signifikan.

Selanjutnya, Hayhoe menggali lebih dalam tentang bagaimana agama tetap penting bagi komunitas serta individu dan perlu diberikan perhatian dalam penelitian pendidikan komparatif. Dia juga menyoroti bagaimana buku-buku dan konferensi tertentu, seperti “Knowledge Across Cultures: A Contribution to Dialogue among Civilizations”, telah menjadi sumber penting dalam mengejar jalur dialog di saat banyak orang terkejut dengan bentrokan antar peradaban.

Secara keseluruhan, bab ini memberikan pandangan mendalam tentang bagaimana pendidikan komparatif dapat berfungsi sebagai jembatan untuk dialog antar peradaban, dengan fokus khusus pada peran agama dan spiritualitas dalam pendidikan dan pembangunan.

6. Can Education Contribute to Social Cohesion?: A critical inquiry into the role of education in promoting social harmony.

Bab berjudul “Can Education Contribute to Social Cohesion?” ditulis oleh Ratna Ghosh. Dalam bab ini, Ghosh mempertimbangkan peran penting pendidikan dalam memajukan kohesi sosial, terutama di tengah-tengah tantangan global seperti pandemi. Berikut adalah penjelasan mendalam tentang bab tersebut:

Pada awal bab ini, Ghosh menyoroti bagaimana pandemi global telah menunjukkan kepada kita betapa pentingnya kerja sama kolektif dan dukungan timbal balik. Dalam konteks ini, pendidikan memiliki peran kunci dalam mengembangkan keterampilan kognitif serta keterampilan sosial dan emosional. Pendidikan Sosial-emosional (SEL) diidentifikasi sebagai komponen penting yang dapat memberikan hasil positif jangka pendek dan panjang pada prestasi akademik serta kesejahteraan siswa.

Ghosh juga menekankan pentingnya pendidikan humanistik yang tidak hanya fokus pada keterampilan untuk keamanan ekonomi tetapi juga mendukung pendidikan yang inklusif, berfokus pada anak secara keseluruhan, dan non-kekerasan. Bab ini menyoroti tantangan yang dihadapi oleh pendidikan dalam masyarakat yang semakin beragam, terutama dengan meningkatnya perpindahan penduduk dan globalisasi. Salah satu tantangan utama adalah menemukan keseimbangan antara pemerataan di antara kelompok-kelompok yang beragam sambil mempertahankan kualitas pendidikan.

Selain itu, Ghosh membahas bagaimana ketegangan antara kebutuhan untuk integrasi berbagai identitas budaya, etnis, dan agama dapat bertentangan dengan praktik tradisional asimilasi ke dalam masyarakat tuan rumah. Ketegangan ini dapat menyebabkan perpecahan di masyarakat dan tercermin di sekolah, menghasilkan diskriminasi, kebencian, dan kekerasan.

Secara keseluruhan, bab ini menawarkan pandangan mendalam tentang bagaimana pendidikan dapat berfungsi sebagai alat untuk mempromosikan kohesi sosial dan perdamaian di tengah-tengah tantangan global dan perubahan sosial. Ghosh menekankan bahwa pendidikan harus memainkan peran sentral dalam mengembangkan warga negara global yang etis dan kritis yang bekerja menuju perdamaian berkelanjutan dan kohesi sosial di dunia yang saling bergantung.

7. Recognizing Teachers as a Key Focus for Comparative Educators: Highlighting the centrality of teachers in the educational landscape.

Bab berjudul “Recognizing Teachers as a Key Focus for Comparative Educators” ditulis oleh Mark Ginsburg. Dalam bab ini, Ginsburg menekankan pentingnya mengakui peran sentral guru dalam pendidikan dan bagaimana pendidikan komparatif harus memberikan perhatian khusus pada guru dan situasi mereka.

Ginsburg memulai dengan menyoroti bagaimana berbagai kebijakan internasional, seperti Deklarasi Incheon dan Kerangka Aksi, menekankan pentingnya guru dalam mencapai pendidikan berkualitas. Meskipun ada pengakuan global tentang pentingnya guru, Ginsburg mencatat bahwa pendidikan komparatif sebagai bidang studi sering kali tidak memberikan perhatian yang cukup pada guru.

Bab ini juga mengeksplorasi bagaimana fokus pada guru dan pendidikan guru telah berubah sepanjang waktu, terutama di Amerika Serikat. Ginsburg menunjukkan bahwa pada awalnya, banyak kursus dan teks pendidikan komparatif memberikan perhatian khusus pada guru. Namun, seiring berjalannya waktu, fokus ini mulai berkurang.

Selanjutnya, Ginsburg menyoroti berbagai literatur yang dapat digunakan oleh instruktur dan penulis dalam bidang pendidikan komparatif untuk memahami lebih dalam tentang guru. Dia berpendapat bahwa pendidikan komparatif harus mempertimbangkan berbagai aspek situasi guru, seperti persiapan pra-layanan mereka, pengembangan inservice, pekerjaan dan status pekerjaan, organisasi profesional/serikat, keterlibatan dalam reformasi pendidikan, dan keterlibatan dalam perubahan masyarakat.

Secara keseluruhan, bab ini menawarkan pandangan mendalam tentang mengapa guru harus menjadi fokus utama bagi pendidik komparatif dan bagaimana pendidikan komparatif dapat memberikan perhatian yang lebih besar pada guru untuk memahami dan meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh dunia.

8. Expanding the Field of Comparative and International Education: Discussing the inclusion of gender perspectives.

Bab berjudul “Expanding the Field of Comparative and International Education: The Inclusion of Gender” ditulis oleh Nelly P. Stromquist. Dalam bab ini, Stromquist mengeksplorasi bagaimana perspektif gender dapat diperluas dan ditekankan dalam bidang pendidikan komparatif dan internasional.

Stromquist membahas evolusi pemikirannya tentang perempuan, gender, dan pendidikan sepanjang kariernya profesional. Dia bergerak dari fokus pada kesetaraan gender ke pemahaman yang lebih mendalam tentang konten pendidikan, dari pemahaman disiplin ke pemberdayaan, dan dari kebijakan negara ke agensi kolektif perempuan.

Bab ini menekankan pentingnya memahami bagaimana gender mempengaruhi akses ke pendidikan, kualitas pendidikan yang diterima, dan hasil pendidikan. Stromquist menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan signifikan dalam meningkatkan akses pendidikan bagi perempuan, masih ada tantangan besar dalam memastikan bahwa pendidikan yang diterima oleh perempuan adalah berkualitas dan relevan.

Selain itu, Stromquist menyoroti bagaimana pendidikan komparatif dan internasional dapat memainkan peran penting dalam memahami dan mengatasi ketidaksetaraan gender dalam pendidikan. Dia berpendapat bahwa pendidikan komparatif harus mempertimbangkan bagaimana gender mempengaruhi pendidikan di berbagai konteks dan bagaimana pendidikan dapat digunakan sebagai alat untuk mempromosikan kesetaraan gender.

Secara keseluruhan, bab ini memberikan pandangan mendalam tentang pentingnya memasukkan perspektif gender dalam pendidikan komparatif dan internasional dan bagaimana pendidikan dapat digunakan sebagai alat untuk memajukan kesetaraan gender di seluruh dunia.

9. Eliminating Dysfunctional Boundaries and Mapping Educational Practice: Advocating for a more integrated approach in comparative education.

Bab berjudul “Eliminating Dysfunctional Boundaries and Mapping Educational Practice: Toward Integration, Infusion, and Inclusiveness in Comparative Education” ditulis oleh John Schwille. Dalam bab ini, Schwille membahas tantangan dan peluang yang dihadapi oleh bidang pendidikan komparatif, dengan fokus khusus pada bagaimana pendidikan komparatif dapat menjadi lebih terintegrasi dan inklusif.

Schwille menyoroti bagaimana pendidikan komparatif tradisional sering kali terpinggirkan di sekolah-sekolah pendidikan Amerika. Dia menggunakan teori Pierre Bourdieu untuk menjelaskan marginalisasi ini. Schwille berpendapat bahwa pendidikan komparatif harus memperluas cakupannya untuk mencakup praktik pendidikan yang lebih luas dan harus mengintegrasikan berbagai pendekatan dan perspektif.

Salah satu area utama yang dibahas dalam bab ini adalah bagaimana pendidikan komparatif dapat memetakan praktik pendidikan secara sistematis. Schwille menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan dalam mengembangkan peta internasional dari praktik pendidikan, sebagian besar perkembangan ini telah terjadi di luar CIES (Comparative and International Education Society).

Schwille juga membahas bagaimana pendidikan komparatif dapat menjadi lebih inklusif dengan memasukkan berbagai area penelitian pendidikan, seperti pendidikan guru, pengembangan anak usia dini, pendidikan lingkungan dan keberlanjutan, pendidikan inklusif, dan lainnya.

Dalam kesimpulannya, Schwille mengakui bahwa pendekatan integrasi-infusi di MSU tidak sepenuhnya sukses, tetapi pendekatan ini telah membuka jalan untuk pemahaman baru tentang pendidikan dan proses penyelidikan baru. Dia menekankan pentingnya menghilangkan batasan disfungsional dan mempromosikan integrasi, infusi, dan inklusivitas dalam pendidikan komparatif.

Secara keseluruhan, bab ini memberikan pandangan mendalam tentang bagaimana pendidikan komparatif dapat diperluas dan diperdalam untuk mencakup berbagai praktik dan perspektif pendidikan, dengan tujuan menciptakan pendekatan yang lebih terintegrasi dan inklusif dalam bidang ini.

10. Training ‘Deep Practitioners’: 50 Years of the Center for International Education at the University of Massachusetts Amherst

Bab berjudul “Training ‘Deep Practitioners’: 50 Years of the Center for International Education at the University of Massachusetts Amherst” ditulis oleh David R. Evans. Bab ini memberikan sejarah singkat dan analitis dari Center for International Education (CIE) di University of Massachusetts Amherst, dengan tujuan untuk memahami apa yang membuatnya mungkin dan apa yang dapat dipelajari dari sejarahnya untuk masa depan program Pendidikan Komparatif dan Internasional (CE/IE).

Bab ini dimulai dengan konteks yang tidak biasa di mana CIE dibuat dan komitmennya untuk menghubungkan akademisi dengan praktik. Evans menyoroti bagaimana berbagai kebijakan internasional telah menekankan pentingnya pendidikan berkualitas dan bagaimana CIE telah berkontribusi dalam upaya ini.

Selama 50 tahun sejarahnya, CIE telah melalui berbagai fokus dalam pendidikan pembangunan: pendidikan nonformal/dewasa, meningkatkan akses untuk populasi yang kurang dilayani, guru dan pendidikan guru, pengembangan pendidikan tinggi, pendidikan alternatif, dan pendidikan dalam konflik dan krisis.

Evans juga membahas bagaimana pendekatan CIE terhadap pendidikan telah berevolusi sepanjang waktu. Pada awal 1970-an, CIE terinspirasi oleh tulisan-tulisan terobosan dari Paulo Freire dan Ivan Illich dan mencari cara untuk menerjemahkan ide-ide mereka ke dalam praktik.

Selain itu, bab ini menyoroti bagaimana CIE telah berkontribusi pada pengembangan pendidikan di berbagai negara dan bagaimana lulusannya telah memainkan peran penting dalam pendidikan dan pembangunan di seluruh dunia.

Secara keseluruhan, bab ini memberikan pandangan mendalam tentang sejarah dan kontribusi CIE di University of Massachusetts Amherst dan bagaimana pendekatan “Deep Practitioner” telah mempengaruhi pendidikan komparatif dan internasional selama lima dekade terakhir.

11. Two Tales, Contending Perspectives, and Contested Terrain: Navigating the complexities of educational paradigms.

Bab berjudul “Two Tales, Contending Perspectives, and Contested Terrain” ditulis oleh Joel Samoff. Bab ini mengeksplorasi evolusi pendidikan komparatif dan internasional, dengan menyoroti bagaimana bidang ini telah berkembang dan bagaimana perspektif yang berbeda telah mempengaruhi pemahaman dan pendekatan terhadap pendidikan di berbagai konteks.

Samoff memulai dengan pertanyaan tentang apa itu pendidikan komparatif. Apakah itu hanya kategori umum untuk penelitian tentang pendidikan di tempat lain? Atau, apakah itu bidang studi yang koheren dengan teori dan metodenya sendiri? Dia menggunakan dua cerita paralel untuk menangkap perspektif yang berbeda dan peran akademik.

Bab ini menyoroti bagaimana pendidikan komparatif dan internasional awalnya berakar pada gagasan tentang pembangunan. Salah satu cerita menekankan pentingnya pendidikan dalam mendukung pembangunan ekonomi dan sosial, sementara cerita lainnya menyoroti bagaimana pendidikan dapat digunakan sebagai alat untuk memahami dan mengatasi ketidaksetaraan dan ketidakadilan.

Samoff juga membahas tantangan dan peluang yang dihadapi oleh bidang pendidikan komparatif. Dia menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan dalam memahami pendidikan di berbagai konteks, masih ada banyak ketidaksepakatan tentang bagaimana pendidikan harus didefinisikan dan dipahami.

Secara keseluruhan, bab ini memberikan pandangan mendalam tentang bagaimana pendidikan komparatif dan internasional telah berkembang sepanjang waktu dan bagaimana berbagai perspektif telah mempengaruhi pemahaman dan pendekatan terhadap pendidikan di berbagai konteks. Bab ini menekankan pentingnya melintasi batas disiplin dan memahami pendidikan dalam konteks yang lebih luas.

12. Evolving Nexus Between Diplomacy and Comparative and International Education: Exploring the intersections between diplomacy and education.

Bab berjudul “Evolving Nexus Between Diplomacy and Comparative and International Education” ditulis oleh Beverly Lindsay. Dalam bab ini, Lindsay mengeksplorasi hubungan antara diplomasi dan pendidikan komparatif dan internasional, dengan menekankan bagaimana universitas dan lembaga pendidikan berperan dalam diplomasi dan hubungan internasional.

Lindsay memulai dengan memberikan konteks historis tentang bagaimana pendidikan dan urusan budaya diidentifikasi sebagai dimensi keempat dari kebijakan luar negeri. Dia menyoroti bagaimana lanskap geopolitik dunia telah berubah, dengan negara-negara industri G7 dan negara-negara berkembang dan muncul G-20 berjuang dengan tantangan lintas batas seperti pendidikan, kesehatan masyarakat, sumber daya alam, dan terorisme.

Bab ini juga mengeksplorasi konsep diplomasi dan kekuatan lunak. Pada akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh, diplomasi didefinisikan sebagai hubungan formal antara pemerintah melalui utusan. Namun, dengan berbagai faktor, diplomasi telah berevolusi untuk mencakup komunikasi antara pemerintah dan organisasi lainnya.

Lindsay juga mengeksplorasi bagaimana universitas terkait dengan diplomasi dan urusan internasional. Dia menilai bagaimana universitas memenuhi tiga fungsi utama mereka: pengajaran, penelitian, dan keterlibatan publik dalam konteks diplomasi. Bab ini mengeksplorasi bagaimana berbagai lembaga pemerintah dan yayasan filantropi di Amerika dan Inggris dipengaruhi oleh diplomasi dan kebijakan luar negeri melalui misi dan prioritas pendanaan mereka untuk pendidikan.

Secara keseluruhan, bab ini memberikan pandangan mendalam tentang bagaimana pendidikan komparatif dan internasional berinteraksi dengan diplomasi dan bagaimana universitas dan lembaga pendidikan dapat berperan dalam memajukan diplomasi dan hubungan internasional. Bab ini menekankan pentingnya memahami hubungan antara pendidikan dan diplomasi dalam konteks global yang berubah-ubah.

13. Traversing Beyond the Contemporary to the Future: Charting the future trajectory of comparative and international education.

Bab berjudul “Traversing Beyond the Contemporary to the Future” ditulis oleh Beverly Lindsay. Bab ini berfokus pada eksplorasi tentang arah masa depan pendidikan komparatif dan internasional, dengan mempertimbangkan bagaimana bidang ini telah berkembang sejauh ini dan apa yang mungkin diharapkan di masa mendatang.

Dalam bab ini, Lindsay menyoroti bagaimana pendidikan komparatif dan internasional telah berkembang sepanjang waktu, dengan mengevaluasi berbagai paradigma dari berbagai negara di seluruh dunia. Bab ini juga mengeksplorasi topik penting lainnya seperti kebijakan pendanaan pendidikan, interaksi antara gender dengan struktur dan kebijakan formal, serta pentingnya pendidikan guru dalam konteks global.

Salah satu fokus utama bab ini adalah bagaimana pendidikan komparatif dan internasional dapat terus beradaptasi dan berevolusi dalam menghadapi tantangan global yang berubah-ubah. Lindsay menekankan pentingnya melihat ke depan dan mempertimbangkan bagaimana pendidikan dapat terus berkontribusi pada pemahaman dan solusi untuk masalah global.

Bab ini juga menyoroti bagaimana pendidikan komparatif dan internasional dapat berkontribusi pada pengembangan kebijakan, praktek, dan paradigma yang muncul dari penelitian terapan. Dengan demikian, bab ini memberikan pandangan mendalam tentang potensi masa depan pendidikan komparatif dan internasional dan bagaimana bidang ini dapat terus berkontribusi pada pemahaman dan solusi untuk tantangan pendidikan global.