A. Definisi Self Efficacy
Self-efficacy adalah keyakinan seseorang dalam kemampuannya untuk menyelesaikan tugas atau mencapai tujuan. Ini mencakup kepercayaan seseorang pada diri mereka sendiri untuk mengendalikan perilaku mereka, memberikan pengaruh terhadap lingkungan mereka, dan tetap termotivasi dalam pencapaian tujuan mereka. Orang dapat memiliki self-efficacy dalam situasi dan domain yang berbeda, seperti sekolah, pekerjaan, hubungan, dan area penting lainnya (Cherry, 2023).
Konsep self-efficacy adalah bagian sentral dari teori kognitif sosial Albert Bandura, yang menekankan peran pembelajaran observasional, pengalaman sosial, dan determinisme timbal balik dalam perkembangan kepribadian (Bandura, 1997). Menurut Bandura, self-efficacy adalah bagian dari sistem diri yang terdiri dari sikap, kemampuan, dan keterampilan kognitif seseorang. Sistem ini memainkan peran utama dalam bagaimana kita mempersepsikan dan merespons situasi yang berbeda. Self-efficacy adalah bagian penting dari sistem diri ini.
Menurut Albert Bandura, self-efficacy adalah “keyakinan dalam kemampuan seseorang untuk mengatur dan menjalankan tindakan yang diperlukan untuk mengelola situasi prospektif.” Sehingga dapat disimpulkan bahwa Self-efficacy adalah keyakinan seseorang dalam kemampuannya untuk berhasil dalam situasi tertentu. Keyakinan semacam itu memainkan peran dalam menentukan bagaimana orang berpikir, berperilaku, dan merasa.
B. Pentingnya Self Efficacy dalam Pendidikan
a. Pentingnya Self-Efficacy bagi Siswa:
-
- Self-efficacy terkait dengan tingkat tantangan yang sesuai dalam tugas. Dengan mengembangkan kriteria tertentu, guru dapat memastikan bahwa siswa dengan berbagai kemampuan merasa tertantang saat menyelesaikan tugas yang sama (Harvard Graduate School of Education, 2018).
-
- Self-efficacy dapat meningkatkan pencapaian siswa, mendorong kesehatan emosional dan kesejahteraan, dan berfungsi sebagai prediktor yang valid dari motivasi dan pembelajaran (Self-Efficacy Toolkit, n.d.).
-
- Siswa dengan tingkat self-efficacy yang tinggi lebih aktif berpartisipasi dalam kelas, bekerja lebih keras, bertahan lebih lama, dan memiliki reaksi emosional yang lebih sedikit saat menghadapi kesulitan dibandingkan dengan siswa dengan self-efficacy yang rendah (Self-Efficacy Toolkit, n.d.).
b. Pentingnya Self-Efficacy bagi Guru (Ask a Psychologist Contributor, 2020) :
-
- Guru harus percaya pada kemampuan mereka sendiri — bahwa siswa yang sulit dapat dijangkau dan diajar melalui upaya ekstra dan teknik yang sesuai.
-
- Guru yang percaya pada kemampuan mereka cenderung mengandalkan persuasi untuk mengendalikan kelas mereka, sementara mereka yang meragukan kemampuan mereka sendiri lebih cenderung mengelola kelas dengan disiplin yang restriktif dan bersifat hukuman.
-
- Budaya sekolah juga penting. Kepala sekolah dapat bekerja untuk mengeluarkan yang terbaik dari guru mereka dan mempromosikan pendekatan pendidikan yang inovatif.
C. Teori Albert Bandura tentang Self Efficacy
Teori Self-Efficacy yang dikembangkan oleh Albert Bandura adalah bagian dari teori kognitif sosialnya dan menekankan peran keyakinan individu dalam kemampuannya untuk mencapai hasil tertentu.
Bandura mengidentifikasi lima pengaruh (sumber) utama yang mempengaruhi self-efficacy:
- Performance Experience (Mastery Experiences): Kesuksesan masa lalu dalam tugas serupa. Ketika individu berhasil menyelesaikan tugas atau menghadapi tantangan, ini meningkatkan keyakinan mereka bahwa mereka dapat berhasil lagi di masa depan. Sebaliknya, kegagalan berulang tanpa pengalaman sukses dapat menurunkan self-efficacy.
- Vicarious Experience: Melihat orang lain, atau model peran, berhasil dalam tugas atau aktivitas. Jika model peran dianggap mirip dengan individu yang mengamati, efeknya pada peningkatan self-efficacy akan lebih kuat.
- Social Persuasion (Verbal Persuasion): Mendapatkan kata-kata pendorong dan dukungan dari orang lain. Kata-kata positif dan dorongan dari orang lain, terutama dari orang-orang yang dianggap memiliki otoritas atau keahlian, dapat meningkatkan keyakinan seseorang bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berhasil.
- Imaginal Experiences: Kemampuan individu untuk membayangkan diri mereka sendiri berhasil atau gagal dalam situasi tertentu. Visualisasi positif atau bayangan diri berhasil dapat meningkatkan self-efficacy, sementara bayangan diri gagal dapat menurunkannya.
- Physiological and Emotional States: Respons emosional dan fisik individu saat menghadapi tantangan atau tugas. Sensasi fisik seperti detak jantung yang cepat, keringat, atau kecemasan dapat mempengaruhi persepsi seseorang tentang kemampuan mereka. Perasaan tenang dan rileks cenderung meningkatkan self-efficacy, sementara perasaan cemas atau stres dapat menurunkannya.
Menurut Bandura, self-efficacy memainkan peran kunci dalam bagaimana individu mendekati tugas, tantangan, dan pengalaman hidup. Keyakinan tentang kemampuan seseorang mempengaruhi pilihan yang mereka buat, seberapa keras mereka berusaha, seberapa lama mereka bertahan menghadapi tantangan, dan apakah mereka merasa cemas atau tenang saat menghadapi tantangan.
D. Kaitan Self Efficacy dengan Teknologi Pembelajaran Masa Depan
Bagaimana Self Efficacy mempengaruhi penerimaan dan adaptasi terhadap Teknologi Pembelajaran?
Self-efficacy, atau keyakinan seseorang tentang kemampuannya untuk menyelesaikan tugas atau mencapai tujuan tertentu, memainkan peran penting dalam penerimaan dan adaptasi terhadap teknologi pembelajaran.
Berikut adalah beberapa cara di mana self-efficacy mempengaruhi penerimaan dan adaptasi terhadap teknologi pembelajaran:
a. Kesiapan untuk Mencoba Teknologi Baru
Individu dengan self-efficacy yang tinggi lebih cenderung bersedia mencoba dan mengadopsi teknologi pembelajaran baru karena mereka percaya pada kemampuan mereka untuk mempelajari dan menguasai teknologi tersebut.
b. Ketahanan terhadap Hambatan
Saat menghadapi kesulitan atau hambatan dalam menggunakan teknologi baru, individu dengan self-efficacy yang tinggi lebih cenderung bertahan dan mencari solusi daripada menyerah. Mereka percaya bahwa mereka dapat mengatasi tantangan dan hambatan yang muncul.
c. Kecepatan Adaptasi
Self-efficacy yang tinggi dapat mempercepat proses adaptasi terhadap teknologi baru. Individu tersebut cenderung lebih cepat dalam eksplorasi, pemahaman fitur, dan penerapan teknologi dalam konteks pembelajaran mereka.
d. Penggunaan Fitur Lanjutan
Individu dengan self-efficacy yang tinggi lebih cenderung memanfaatkan fitur lanjutan dari teknologi pembelajaran karena mereka percaya bahwa mereka dapat memahami dan memanfaatkan fitur-fitur tersebut untuk meningkatkan pengalaman belajar mereka.
e. Dampak Emosional
Self-efficacy yang tinggi dapat mengurangi rasa cemas atau takut terhadap teknologi baru. Sebaliknya, mereka mungkin merasa lebih termotivasi dan bersemangat untuk mengintegrasikan teknologi baru ke dalam proses belajar mereka.
f. Penerimaan Teman Sebaya dan Kolaborasi
Individu dengan self-efficacy yang tinggi dalam teknologi cenderung menjadi “champion” atau perintis dalam adopsi teknologi baru. Mereka mungkin berbagi pengetahuan dan keterampilan mereka dengan rekan-rekan mereka, mendorong penerimaan dan kolaborasi yang lebih luas dalam komunitas belajar.
g. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Evaluasi
Self-efficacy mempengaruhi bagaimana seseorang mengevaluasi kegunaan dan kemudahan penggunaan teknologi baru. Jika mereka merasa mampu menggunakannya, mereka lebih cenderung melihat teknologi tersebut sebagai alat yang berguna dan bernilai.
Teknologi Pembelajaran yang dapat meningkatkan Self Efficacy Peserta Didik
Teknologi pembelajaran dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan self-efficacy peserta didik. Berikut adalah beberapa produk teknologi pembelajaran yang dapat meningkatkan self-efficacy siswa:
a. Platform Pembelajaran Adaptif
Teknologi ini menyesuaikan konten dan sumber daya berdasarkan kemajuan dan kebutuhan individu siswa. Dengan mendapatkan materi yang sesuai dengan level mereka, siswa dapat merasa lebih percaya diri dalam kemampuan mereka untuk menguasai materi tersebut.
b. Simulasi dan Permainan Edukatif
Simulasi dan permainan edukatif memungkinkan siswa untuk bereksperimen dan belajar dalam lingkungan yang aman dan terkendali. Kesuksesan dalam permainan atau simulasi dapat meningkatkan keyakinan siswa dalam kemampuan mereka untuk menghadapi situasi serupa di dunia nyata.
c. Realitas Virtual (VR) dan Realitas Tertambah (AR)
VR dan AR dapat memberikan pengalaman belajar yang mendalam dan interaktif. Melalui pengalaman imersif ini, siswa dapat memperoleh keterampilan dan pengetahuan dalam lingkungan yang mendukung dan menarik, yang dapat meningkatkan keyakinan mereka dalam kemampuan mereka.
d. Sistem Manajemen Belajar (LMS)
LMS sering dilengkapi dengan fitur pelacakan kemajuan, yang memungkinkan siswa untuk melihat perkembangan mereka seiring waktu. Melihat kemajuan mereka dapat meningkatkan keyakinan siswa dalam kemampuan mereka untuk belajar dan mencapai tujuan mereka.
e. Portofolio Digital
Portofolio digital memungkinkan siswa untuk mengumpulkan dan menampilkan pekerjaan mereka seiring waktu. Melihat pertumbuhan dan perkembangan mereka dapat meningkatkan rasa pencapaian dan keyakinan dalam kemampuan mereka.
f. Alat Kolaborasi Online
Teknologi seperti forum diskusi, papan tulis virtual, dan aplikasi kolaborasi memungkinkan siswa untuk bekerja sama dengan rekan-rekan mereka. Dengan mendapatkan umpan balik dan dukungan dari rekan-rekan mereka, siswa dapat merasa lebih percaya diri dalam kemampuan mereka.
g. Tutoring dan Bantuan Otomatis
Beberapa platform pembelajaran menawarkan bantuan otomatis atau tutoring online. Dengan akses ke sumber daya ini, siswa dapat mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan tepat waktu, yang dapat meningkatkan keyakinan mereka dalam kemampuan mereka untuk mengatasi hambatan.
h. Video Edukatif dan Tutorial
Video edukatif dan tutorial memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan mereka sendiri. Siswa dapat meninjau materi sesering yang mereka butuhkan, yang dapat meningkatkan pemahaman dan keyakinan mereka dalam materi tersebut.
E. Contoh-contoh Implementasi teknologi pembelajaran yang memperhatikan aspek Self Efficacy
Berikut adalah beberapa contoh implementasi teknologi pembelajaran yang memperhatikan aspek self-efficacy:
a. Dashboard Kemajuan Siswa
Banyak sistem manajemen belajar (LMS) menawarkan dashboard yang memungkinkan siswa untuk melacak kemajuan mereka sendiri. Melihat perkembangan dan pencapaian mereka dapat meningkatkan rasa pencapaian dan keyakinan dalam kemampuan mereka.
b. Kuis dan Tes Adaptif
Kuis dan tes yang menyesuaikan tingkat kesulitan berdasarkan jawaban siswa memastikan bahwa siswa selalu mendapat tantangan yang sesuai dengan kemampuan mereka, yang dapat meningkatkan keyakinan mereka dalam kemampuan mereka untuk menghadapi materi yang lebih sulit.
c. Simulasi Berbasis Peran
Menggunakan teknologi VR atau AR, siswa dapat berpartisipasi dalam simulasi berbasis peran di mana mereka harus mengambil keputusan atau menyelesaikan tugas dalam lingkungan yang aman. Keberhasilan dalam simulasi ini dapat meningkatkan keyakinan siswa dalam kemampuan mereka untuk menghadapi situasi serupa di dunia nyata.
d. Platform Peer Review
Menggunakan platform seperti Peergrade atau Turnitin, siswa dapat memberikan dan menerima umpan balik dari rekan-rekan mereka. Mendapatkan umpan balik konstruktif dari rekan-rekan dapat meningkatkan keyakinan siswa dalam kualitas pekerjaan mereka.
e. Portofolio Digital Interaktif
Siswa dapat membuat portofolio digital yang menampilkan pekerjaan terbaik mereka, mencerminkan pertumbuhan dan perkembangan mereka seiring waktu. Melalui refleksi dan introspeksi, siswa dapat meningkatkan kesadaran dan keyakinan mereka dalam kemampuan mereka.
f. Permainan Edukatif dengan Leveling
Permainan edukatif yang memiliki sistem leveling memungkinkan siswa untuk melihat perkembangan mereka dan mencapai level yang lebih tinggi berdasarkan pencapaian mereka. Setiap level yang dicapai dapat meningkatkan rasa pencapaian dan keyakinan siswa.
g. Forum Diskusi dengan Sistem Medali atau Badge
Beberapa platform diskusi online memberikan medali atau badge kepada siswa berdasarkan partisipasi dan kontribusi mereka. Ini dapat meningkatkan motivasi dan keyakinan siswa dalam kemampuan mereka untuk berkontribusi dalam diskusi.
h. Alat Bantuan Otomatis
Alat seperti chatbots edukatif atau asisten virtual dapat memberikan bantuan instan kepada siswa saat mereka menghadapi kesulitan, memberi mereka keyakinan bahwa dukungan selalu tersedia.
F. Cara-cara untuk meningkatkan Self Efficacy siswa dalam menggunakan Teknologi Pembelajaran Masa Depan
Meningkatkan self-efficacy siswa dalam menggunakan teknologi pembelajaran masa depan adalah kunci untuk memastikan bahwa siswa dapat memanfaatkan teknologi dengan efektif dan percaya diri.
Berikut adalah beberapa cara untuk meningkatkan self-efficacy peserta didik:
a. Pendidikan Dasar Teknologi
Sebelum memperkenalkan teknologi baru, pastikan siswa memiliki pemahaman dasar tentang cara kerjanya. Sesi orientasi atau pelatihan dapat membantu siswa merasa lebih nyaman dengan teknologi baru.
b. Pemberian Umpan Balik Positif
Pujian dan umpan balik positif dapat meningkatkan keyakinan siswa dalam kemampuan mereka. Saat siswa berhasil menggunakan teknologi atau mencapai tujuan tertentu dengan bantuannya, berikan pujian.
c. Pembelajaran Berbasis Proyek
Memungkinkan siswa untuk bekerja pada proyek yang memanfaatkan teknologi dapat memberi mereka kesempatan untuk “belajar dengan melakukan”, yang dapat meningkatkan keyakinan mereka dalam kemampuan mereka.
d. Kesempatan untuk Mengajari Rekan
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajari rekan-rekan mereka cara menggunakan teknologi tertentu dapat meningkatkan rasa pencapaian dan keyakinan dalam kemampuan mereka.
e. Simulasi dan Permainan
Menggunakan simulasi dan permainan yang memanfaatkan teknologi dapat memberikan lingkungan yang aman bagi siswa untuk bereksperimen dan belajar tanpa takut gagal.
f. Pembuatan Tujuan yang Dapat Dicapai
Tetapkan tujuan yang realistis dan dapat dicapai untuk siswa saat menggunakan teknologi. Saat mereka mencapai tujuan ini, mereka akan merasa lebih percaya diri untuk menghadapi tantangan yang lebih besar.
g. Dukungan Peer-to-Peer
Mendorong kolaborasi antar siswa dapat membantu mereka saling mendukung dan berbagi pengetahuan tentang teknologi.
h. Akses ke Sumber Daya dan Bantuan
Pastikan siswa tahu di mana dan bagaimana mendapatkan bantuan saat mereka menghadapi kesulitan dengan teknologi. Ini bisa berupa tutorial online, forum dukungan, atau sesi tanya jawab dengan guru.
i. Refleksi dan Introspeksi
Mendorong siswa untuk merefleksikan pengalaman mereka dengan teknologi, apa yang mereka pelajari, dan bagaimana mereka dapat meningkatkan di masa depan.
j. Pengenalan Teknologi dalam Konteks yang Relevan
Saat memperkenalkan teknologi baru, jelaskan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari siswa atau dengan materi yang sedang mereka pelajari. Ini akan membuat teknologi tersebut lebih bermakna dan relevan bagi mereka
G. Level Self Efficacy
Self-efficacy, atau keyakinan seseorang tentang kemampuannya untuk menyelesaikan tugas atau mencapai tujuan, bervariasi di antara individu.
Berdasarkan tingkat self-efficacy, berikut adalah rekomendasi teknologi pembelajaran yang sesuai:
a. Self-Efficacy Rendah
Panduan Langkah demi Langkah: Untuk siswa yang merasa tidak yakin dengan kemampuan mereka, alat pembelajaran yang memberikan panduan langkah demi langkah atau tutorial dapat sangat membantu.
Video Demonstrasi: Menyediakan video demonstrasi tentang cara menggunakan alat atau konsep tertentu dapat membantu siswa memahami materi dengan lebih baik.
Sistem Bantuan Interaktif: Alat yang memiliki sistem bantuan interaktif atau chatbot yang dapat menjawab pertanyaan siswa secara real-time.
Kuis dengan Umpan Balik Instan: Kuis yang memberikan umpan balik instan dapat membantu siswa memahami kesalahan mereka dan belajar dari kesalahan tersebut.
b. Self-Efficacy Sedang
Platform Kolaboratif: Menggunakan platform seperti Google Docs atau Trello yang memungkinkan siswa untuk bekerja sama dengan rekan-rekan mereka.
Permainan Edukatif: Permainan yang menantang tetapi memberikan petunjuk atau bantuan saat siswa menghadapi kesulitan.
Forum Diskusi: Tempat di mana siswa dapat mengajukan pertanyaan, berbagi ide, dan mendapatkan umpan balik dari rekan-rekan dan guru mereka.
c. Self-Efficacy Tinggi
Pembelajaran Berbasis Proyek: Alat yang memungkinkan siswa untuk bekerja pada proyek mandiri atau kelompok yang menantang.
Simulasi dan VR: Teknologi yang memungkinkan siswa untuk bereksperimen dan belajar dalam lingkungan yang mendalam dan realistis.
Alat Pemrograman dan Desain: Untuk siswa yang merasa sangat yakin dengan kemampuan mereka, alat seperti Scratch untuk pemrograman atau Adobe Creative Cloud untuk desain dapat memberikan tantangan yang mereka butuhkan.
Kursus Online Mandiri: Kursus yang memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan mereka sendiri, seperti yang ditawarkan oleh platform seperti Coursera atau Udemy.
H. Ringkasan
Self-Efficacy:
-
- Didefinisikan sebagai keyakinan atau kepercayaan individu tentang kemampuannya untuk menyelesaikan tugas atau mencapai tujuan tertentu.
- Dikembangkan oleh Albert Bandura sebagai bagian dari teori kognitif sosialnya.
- Memainkan peran penting dalam motivasi, prestasi, dan perilaku individu.
Pentingnya Self-Efficacy dalam Pendidikan:
-
- Siswa dengan self-efficacy yang tinggi lebih aktif berpartisipasi, bekerja lebih keras, dan bertahan lebih lama dalam menghadapi kesulitan.
- Guru dengan self-efficacy yang tinggi lebih cenderung menggunakan metode pengajaran yang persuasif dan inovatif.
Teknologi Pembelajaran dan Self-Efficacy:
-
- Teknologi pembelajaran dapat meningkatkan self-efficacy siswa dengan memberikan dukungan, umpan balik, dan kesempatan untuk “belajar dengan melakukan”.
- Beberapa contoh teknologi yang dapat meningkatkan self-efficacy siswa termasuk platform pembelajaran adaptif, simulasi, realitas virtual, dan permainan edukatif.
Daftar Pustaka
Ask a Psychologist Contributor. (2020, October 7). What Teachers Need to Know About Self-Efficacy (Opinion). Education Week. Retrieved October 10, 2023, from https://www.edweek.org/education/opinion-what-teachers-need-to-know-about-self-efficacy/2020/10
Bandura, A. (Ed.). (1997). Self-Efficacy in Changing Societies. Cambridge University Press.
Cherry, K. (2023, February 27). Self-Efficacy: Why Believing in Yourself Matters. Verywell Mind. Retrieved October 10, 2023, from https://www.verywellmind.com/what-is-self-efficacy-2795954
Harvard Graduate School of Education. (2018, September 21). Building a Culture of Self-Efficacy | Harvard Graduate School of Education. Harvard Graduate School of Education. Retrieved October 10, 2023, from https://www.gse.harvard.edu/ideas/usable-knowledge/18/09/building-culture-self-efficacy
Self-Efficacy Toolkit. (n.d.). Transforming Education. Retrieved October 10, 2023, from https://transformingeducation.org/resources/self-efficacy-toolkit/
