Dalam buku “Axiology 4.0” oleh C. Arnaud ini, aksiologi dibahas secara mendalam sebagai studi tentang nilai.

Terdapat beberapa konsep-konsep yang disajikan dalam buku ini yang berkaitan dengan bidang ilmu Teknologi Pendidikan seperti :

  1. Penentuan Nilai dalam Teknologi Pendidikan:
    Aksiologi membantu kita memahami apa yang kita nilai dan mengapa kita menilainya. Dalam konteks Teknologi Pendidikan, ini dapat membantu pendidik dan desainer instruksional menentukan teknologi atau pendekatan apa yang paling berharga untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Misalnya, apakah penggunaan realitas virtual dalam pendidikan memiliki nilai intrinsik dalam meningkatkan pengalaman belajar siswa, atau apakah nilainya terletak pada kemampuannya untuk meningkatkan hasil belajar?
  2. Desain Instruksional yang Berpusat pada Siswa:
    Konsep “Love of love” dan “Love of art” dari buku ini dapat diterapkan dalam desain instruksional. Menghargai proses belajar siswa (cinta terhadap belajar) dan menciptakan materi pembelajaran yang menarik dan bermakna (seni dalam pendidikan) dapat meningkatkan kualitas pengalaman belajar.
  3. Etika dalam Teknologi Pendidikan:
    “Love of evil (the radical evil)” mengingatkan kita untuk selalu mempertimbangkan aspek etika dalam penggunaan teknologi. Dalam pendidikan, ini bisa berarti memastikan bahwa teknologi tidak disalahgunakan atau digunakan untuk mendiskriminasi atau merugikan siswa tertentu.
  4. Adaptasi dan Inovasi:
    Dengan memahami apa yang kita nilai dalam pendidikan, kita dapat lebih adaptif dalam mengadopsi teknologi baru dan inovasi dalam desain instruksional. Sebagai contoh, jika kita menilai kolaborasi dan interaksi siswa, kita mungkin akan memilih teknologi yang mendukung pembelajaran kolaboratif.
  5. Evaluasi Teknologi:
    Aksiologi dapat membantu dalam evaluasi teknologi pendidikan dengan memberikan kerangka kerja untuk menilai apakah suatu teknologi atau pendekatan memenuhi nilai-nilai yang kita anut dalam pendidikan.

Berdasarkan konsep-konsep tersebut, prinsip-prinsip aksiologi yang disajikan dalam buku ini dapat memberikan wawasan berharga bagi para profesional di bidang Teknologi Pendidikan untuk membuat keputusan yang lebih tepat dan etis tentang penggunaan teknologi dalam pendidikan.

Berikut adalah ulasan dari isi Buku “Axiology 4.0” oleh C. Arnaud :

Book I/ The confusion between Ethics and Axiology (Buku I: Kebingungan antara Etika dan Aksiologi)

Aksiologi, yang merupakan disiplin yang mempelajari nilai, harus dibedakan dengan cermat dari Etika. Meskipun kita sering mengaitkan nilai kita dengan moral, ada berbagai jenis nilai selain nilai moral. Oleh karena itu, nilai moral hanya merupakan bagian dari nilai yang ada.

Buku I dari “Axiology 4.0” berjudul “The confusion between Ethics and Axiology” membahas tentang perbedaan dan kebingungan antara Ethics (Etika) dan Axiology (Aksiologi).

I/ A necessary distinction

  • Aksiologi, sebagai disiplin yang mempelajari nilai, harus dibedakan dengan cermat dari Ethics (Etika).
  • Seringkali dikatakan bahwa masalah yang berkaitan dengan nilai kita adalah masalah etika, yang seharusnya dapat dipecahkan dengan Ethics (Etika). Namun, mempertanyakan apakah sesuatu memiliki nilai sebenarnya tidak ada hubungannya dengan bertanya apakah kita memiliki kewajiban dan apa kewajiban tersebut, atau bagaimana menjadi wise (bijaksana) atau happy (bahagia).

II/ The consequences of the confusion between Ethics and Axiology

  • Kebingungan antara konsep nilai dan konsep terkait telah menciptakan situasi confusion: lupa nilai (oblivion of value). Dalam bahasa Inggris, “oblivion” berarti keadaan lupa atau tidak sadar, atau keadaan di mana sesuatu telah terlupakan atau diabaikan. Dalam konteks buku “Axiology 4.0”, “the oblivion of value” mengacu pada fenomena di mana konsep nilai telah menjadi kabur atau hilang dari diskusi filsafat karena kebingungan dengan konsep-konsep lain yang terkait.
  • Akibatnya, dalam bidang pengetahuan kontemporer, Aksiologi muncul sebagai ilmu yang mati sebelum berkembang, yang hanya dikenal namanya tetapi maknanya diabaikan.

III/ The impossibility of founding morality

  • Kita mungkin berasumsi bahwa kesalahpahaman tentang konsep nilai telah membuatnya mustahil untuk mendefinisikan dasar etika. Mendirikan moralitas mungkin tidak hanya membuktikan bahwa kita harus bermoral, atau bahwa moralitas mengarah pada kebahagiaan. Tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa moral memiliki nilai atau bahwa menjadi moral memiliki nilai lebih dari menjadi immoral atau amoral. Oleh karena itu, hanya Aksiologi, sebagai disiplin ilmu yang tugasnya adalah untuk menentukan apa yang memiliki nilai atau tidak, yang dapat digunakan untuk menemukan dasar moralitas.

Book II/ Prolegomena to axiology

Buku II dari “Axiology 4.0” berjudul “Prolegomena to axiology” membahas tentang pendahuluan untuk memahami aksiologi.

I/ Provisional definition of value

Dalam buku ini, penulis mencoba memberikan definisi sementara tentang apa itu nilai. Namun, definisi spesifik tentang “nilai” dalam buku ini tidak disajikan secara langsung.

Dari konten yang ada, kita dapat memahami bahwa penulis berusaha mendefinisikan dan memahami konsep nilai dalam konteks yang lebih luas, membedakannya dari konsep-konsep lain seperti etika dan moralitas. Penulis juga menekankan pentingnya memahami aksiologi sebagai disiplin ilmu yang mempelajari nilai dan bagaimana nilai tersebut berinteraksi dengan konsep-konsep lain.

Nilai berkaitan dengan kualitas dari sesuatu. Mencari nilai dari suatu objek dan mencari kualitasnya mungkin pada dasarnya adalah hal yang sama. Namun, definisi ini hanya bersifat sementara dan mungkin tidak memuaskan dari sudut pandang logis. Alasannya adalah bahwa konsep “hierarchy” (hierarki), yang digunakan untuk mendefinisikan nilai, sudah mengandung konsep nilai di dalamnya. Dengan kata lain, untuk memahami konsep nilai, kita menggunakan istilah yang memerlukan pemahaman tentang konsep nilai itu sendiri, menciptakan lingkaran logis.

Buku ini juga menyebutkan dua intuisi yang berkaitan dengan konsep nilai:

  1. Ada hierarki universal dari semua makhluk, hal-hal, tindakan, dan entitas lainnya. Menurut intuisi ini, perilaku atau hal tertentu memiliki lebih banyak nilai daripada yang lain, lebih unggul atau inferior, dan oleh karena itu diatur dalam suatu hierarki, yaitu hierarki nilai.
  2. Beberapa hal dianggap layak untuk dicintai. Ini mewakili sifat subjektif dari konsep nilai, yang berkaitan dengan emosi, khususnya cinta.

Dalam konteks lain, buku ini juga menyebutkan bahwa NILAI dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat dikalikan, ditambahkan, atau disamakan dengan sesuatu yang lain.

II/ Axiological panorama of our time

Penulis mengacu pada Jean-François Lyotard yang menyebut zaman kita sebagai “post-modern”. Lyotard mendefinisikan postmodernisme sebagai “ketidakpercayaan terhadap metanaratif”. Dalam konteks ini, metanaratif merujuk pada narasi besar atau cerita yang memberikan makna dan tujuan bagi kehidupan dan sejarah manusia.

Dalam ruangan yang berantakan, penuh dengan benda-benda, harmoni sulit ditemukan. Buku-buku yang ditumpuk di meja tidak mengacu pada patung yang jatuh di tanah atau tumpukan kotak yang hampir menghancurkan piano yang sudah tua. Dalam kasus ini, elemen-elemen berada “satu di samping yang lain”. Tidak ada cakrawala yang cenderung menyatukan semuanya. Jika zaman kita tanpa “cakrawala yang tak terbendung”, berbeda dengan pandangan Sartre, itu berarti elemen-elemen yang membentuknya berada “satu di samping yang lain”, dan bukan “demi satu sama lain”. Zaman kita adalah campuran makna, bukan keseluruhan yang harmonis. Manusia telah berhenti mengagumi pemandangan indah lautan, untuk memasuki ruangan gelap dari hotel yang sudah tua.

Penulis kemudian menanyakan apakah zaman kita telah meninggalkan upaya “naratif aksiologis besar” dan kehilangan “cakrawala aksiologis”.

Bagiankedua pada Buku II tentang “Axiological panorama of our time” ini mencoba menggambarkan bagaimana konsep nilai dilihat dan dipahami dalam konteks zaman postmodern kita. Penulis menggunakan analogi dan referensi untuk menggambarkan bagaimana nilai-nilai telah berubah dan bagaimana nilai dilihat dalam masyarakat kontemporer.

III/ About the state of mind requested to understand the problem of values

Bagian ketiga ini membahas tentang keadaan pikiran yang diperlukan untuk memahami masalah nilai.

Penulis berpendapat bahwa disiplin ilmu tertentu mungkin ditandai, sebelum kontennya, oleh keadaan pikiran tertentu yang diperlukan dari seseorang yang ingin mempelajarinya. Jika keadaan psikologis seseorang tidak sesuai, maka peneliti mungkin menolak untuk mengakui hasil yang dicapai oleh ilmu tersebut karena dia sederhananya tidak peka terhadapnya.

Untuk mengatakan dengan sederhana, kita dapat membayangkan bahwa puisi memerlukan keadaan pikiran yang bermimpi dari audiens, sedangkan fisika ditujukan untuk seseorang yang penasaran secara alami, yang menikmati sesi observasi dan eksperimen.

Kepentingan aksiologi muncul ketika kita menyadari bahwa masalah nilai adalah masalah, yaitu pertanyaan yang menahan pemeriksaan, tidak memiliki jawaban yang jelas, dan mungkin tidak memiliki jawaban sama sekali.

Ini mengarah pada pemahaman bahwa masalah nilai adalah skandal, yaitu ketiadaan dasar nilai apa pun, dari pemikiran Yunani hingga doktrin kontemporer. Kita harus membiarkan diri kita tergerak oleh provokasi doktrin aksiologis ekstrem. Akhirnya, peneliti akan berada dalam keadaan pikiran yang tepat untuk memulai studi aksiologi, yang terdiri dari penangguhan penilaian nilai (suspension of value judgments).

Dalam filsafat, istilah “suspension” seringkali mengacu pada ide untuk menahan atau menunda penerimaan atau penolakan suatu konsep, ide, atau penilaian. Dalam konteks aksiologi, “suspension of value judgments” berarti menahan diri dari membuat penilaian atau keputusan tentang apa yang dianggap bernilai atau tidak, untuk memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam dan objektif tentang konsep nilai itu sendiri.

Penulis berpendapat bahwa tidak ada dasar nilai untuk saat ini, dan dia akan mencoba membuktikannya.

Bagian ketiga dari Buku kedua ini, penulis mencoba menggambarkan bagaimana keadaan pikiran yang tepat diperlukan untuk memahami masalah nilai. Penulis menggunakan analogi dan referensi untuk menggambarkan bagaimana nilai-nilai harus dipahami dan bagaimana mereka dilihat dalam konteks filsafat.

IV/ Reconfiguration of the field of knowledge

Bagian keempat ini, membahas tentang bagaimana munculnya disiplin baru, yaitu aksiologi, mempengaruhi konfigurasi ulang bidang pengetahuan.

Munculnya disiplin ilmu baru, yaitu aksiologi, secara logis mengakibatkan rekonfigurasi bidang pengetahuan. Hal ini disebabkan karena aksiologi memiliki hubungan yang erat, beragam, dan kompleks dengan disiplin ilmu lain yang sudah ada.

Ada kemungkinan bahwa beberapa disiplin ilmu mungkin menghilang, karena disiplin ilmu baru mungkin sekarang dapat memperlakukan masalah dengan lebih memadai yang sebelumnya dicoba untuk dipecahkan oleh disiplin ilmu lain. Menurut pendapat penulis, ini adalah kasus estetika, yang akan diperiksa lebih lanjut dalam konteks legitimasinya dalam rekonfigurasi bidang pengetahuan.

Dari ulasan di atas, bagian “Reconfiguration of the field of knowledge” mencoba menggambarkan bagaimana munculnya aksiologi sebagai disiplin baru dapat mempengaruhi dan mengubah cara kita memahami dan mengkategorikan pengetahuan. Penulis menggunakan analisis untuk menggambarkan bagaimana aksiologi berinteraksi dengan disiplin lain dan bagaimana hal itu dapat mengubah struktur bidang pengetahuan. Berikut ulasannya :

Hubungan Aksiologi dengan Disiplin Lain Secara Umum: Aksiologi harus menemukan nilai dari sesuatu. Namun, nilai adalah esensi dari sesuatu tersebut. Oleh karena itu, kita harus menemukan esensi dari sesuatu sebelum menemukan nilainya. Namun, ilmu pengetahuanlah yang menemukan esensi dari sesuatu. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa aksiologi sepenuhnya bergantung pada ilmu lain dalam penelitiannya.

Hubungan antara Aksiologi dan Ontologi: Konten esensial dari ontologi terdiri dari debat berabad-abad antara idealisme dan realisme. Aksiologi dapat mengabaikan debat ini, karena tidak perlu mengajukan pertanyaan tentang keberadaan dari sesuatu yang nilainya sedang diperiksa.

Apakah Aksiologi Ilmu Praktis atau Teoritis?: Aksiologi adalah ilmu teoritis. Disiplin ini tidak mencoba membawa objeknya ke dalam keberadaan, tetapi untuk menemukan “properti” tertentu dalam objek: sebuah nilai. Aksiologi mungkin lebih mirip dengan ilmu eksak daripada ilmu sosial.

Pertahanan Ide bahwa Aksiologi Termasuk dalam Bidang Teoritis: Ada kemungkinan bahwa masalah nilai, jika dipecahkan, akan memiliki konsekuensi pada tindakan kita, mengubah cara hidup kita.

Metode Aksiologi: Karakter esensial dari disiplin adalah metodenya. Semua kebenaran yang mungkin ditemukan di akhir investigasi aksiologi, serta proses yang diterapkan untuk menemukannya, berasal dari metode yang dipilih.

Book III/ Proposal for a method for axiology (Proposal untuk Metode Aksiologi)

I/ Where to find the value of things?
A/ In the object?
Aksiologi objektivisme berpendapat bahwa nilai ditemukan dalam objek itu sendiri.
B/ In the subject?
Aksiologi subjektivisme berpendapat bahwa nilai tidak ada pada objek, tetapi manusia yang memberikannya. Ada dua jenis subjektivisme berdasarkan bagaimana kita memahami istilah “memberikan” dalam konteks ini. Menurut jenis subjektivisme pertama, nilai diciptakan oleh manusia atau keinginannya dan hanya ada dalam dirinya, hanya sebagai konsep dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

II/ Love, as the key concept for axiology
Penulis menggunakan analisis mendalam untuk menggambarkan bagaimana cinta dapat didekati dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi pemahaman kita tentang nilai.
1/ Reconstruction of the concept of love

memberikan gambaran tentang refleksi yang telah dilakukan oleh para filsuf tentang cinta mungkin tidak relevan. Meskipun demikian, cinta memiliki posisi penting dalam tulisan para penyair, penulis, dan bahkan teolog, tetapi hanya sedikit filsuf yang membahasnya.
2/ What is contempt?

Jika kita menyangkal bahwa cinta melibatkan penilaian aksiologis, yaitu memberikan nilai pada objek yang dicintai, cinta kita mungkin berubah menjadi penghinaan. Oleh karena itu, perlu dianalisis perasaan yang berlawanan dengan cinta, yaitu penghinaan atau pengabaian.
3/ Love, as a problem

Cinta muncul sebagai perasaan dan sebagai tesis; atau lebih tepatnya, sebagai tesis yang tersembunyi dalam perasaan. Namun, tampaknya aspek kognitif dari cinta telah diabaikan. Oleh karena itu, pertanyaannya adalah: apakah kita akan menemukan sesuatu yang menarik jika kita mengeksplorasi sisi kognitif ini, yaitu apa yang saya sebut sebagai “wajah tersembunyi dari cinta”?
4/ A critical return to subjectivism and eclecticism

Cinta untuk cinta kadang-kadang dianggap sebagai nilai tertinggi, dan kebencian sebagai lawannya. Namun, jika kita mencintai cinta itu sendiri, kita mungkin akan mencintai segalanya, termasuk kejahatan, kekerasan, ketiadaan, dan akhirnya, kebencian itu sendiri. Oleh karena itu, kita memahami bahwa cinta itu sendiri tidak dapat menjadi nilai tertinggi, karena universalisasi hubungan kita dengannya mengarah pada kontradiksi yang membuatnya tidak mungkin.

III/ Deduction of the method of axiology from the concept of love
A/ Fundamental redefinition of the concept of value and formulation of the method
Penulis mengajukan metode ‘analitis’ untuk aksiologi, mencari semua yang berasal secara logis dari konsep.
Penulis menekankan pentingnya mendefinisikan konsep nilai, meskipun definisi yang diberikan pada awalnya bersifat sementara. Seluruh karya ini bertujuan untuk memperjelas makna dari konsep nilai ini secara bertahap. Namun, untuk memulai, penulis merasa perlu memberikan gambaran awal tentang konsep tersebut.
Konsep nilai seringkali disamakan dengan konsep-konsep lain yang sebenarnya berbeda, seperti kebaikan, tujuan, dan lainnya. Oleh karena itu, seringkali dianggap bahwa mengangkat masalah nilai sama dengan merumuskan masalah tentang kebaikan tertinggi atau tujuan akhir. Namun, pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya berbeda. Satu masalah telah digantikan oleh yang lain, yaitu masalah nilai sebenarnya, yang sebenarnya belum pernah diajukan, karena telah dirumuskan dengan tidak benar.
Dalam konteks ini, penulis mengajukan pertanyaan tentang apakah kita akan menemukan sesuatu yang menarik jika kita mengeksplorasi sisi kognitif dari cinta, yang disebutnya sebagai “wajah tersembunyi dari cinta”.
Penulis juga menyoroti bahwa konsep nilai telah disamakan dengan konsep “makna”, dan masalah nilai dengan pertanyaan seperti “Apakah ada makna untuk hidup?” atau “Apa makna dari sejarah manusia?”. Demikian pula, kita telah mengasimilasikan “nilai” dengan “hak”, “realitas” dengan “alam”, serta pertanyaan aksiologi (“Apakah ada sesuatu yang benar-benar memiliki nilai?”) dengan pertanyaan politik (“Apakah ada hak alami?”).


B/ Concrete application of the analytical method

1/ The principle of hierarchy
Dalam definisi sementara nilai, penulis menyatakan bahwa memiliki nilai berarti menempati tempat yang penting dalam hierarki universal. Meskipun ada keberatan terhadap definisi nilai ini, konsep hierarki dapat digunakan untuk mendefinisikan cinta.

2/ The principle of universalisation

Kant telah mengusulkan dalam “Critique of practical reason” sebuah prinsip universalisasi untuk menentukan apa yang moral: “Act only in accordance with that maxim through which you at the same time can will that it become a universal law ” Prinsip ini – imperatif kategoris – kadang-kadang disajikan sebagai dasar moralitas. Namun, menurut penulis, prinsip ini hanya dapat digunakan sebagai formula kasuistik yang memungkinkan kita untuk membedakan, di antara perilaku yang mungkin, perilaku mana yang moral dan mana yang tidak.
Penulis berpendapat bahwa prinsip universalisasi salah ditempatkan pada tugas oleh Kant. Sebenarnya, ini adalah kondisi esensial dari cinta: hubungan kita dengan objek harus dapat diuniversalisasikan agar menjadi cinta yang sebenarnya. Misalnya, jika kita benar-benar mencintai keadilan, kita tidak hanya menginginkan hukum yang adil di negara kita, tetapi di semua sistem politik yang ada secara umum. Jika kita mencintai alam, kita tidak hanya menginginkan tindakan ekologis di negara ini atau itu, tetapi di semua negara. Untuk mencintai ketiadaan berarti menginginkan segalanya menghilang. Namun, jika gerakan kita menuju objek yang dicintai tidak mengandung prinsip universalisasi ini, maka kita harus mengatakan bahwa hubungan kita dengan objek bukanlah cinta, tetapi penghinaan yang tersamar. Penulis berpikir bahwa prinsip universalisasi tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi tindakan yang sesuai dengan tugas, tetapi untuk membedakan cinta sejati dari yang palsu, yang sebenarnya hanyalah penghinaan.

3/ Three examples of a concrete determination of a value
Bagian ini membahas penerapan metode analitis dalam menentukan nilai melalui contoh konkret. Penulis menekankan bahwa metode analitis yang diajukan dalam buku ini mungkin tampak kabur dan abstrak. Oleh karena itu, untuk memahaminya dengan lebih baik, dianjurkan untuk menerapkannya dan melihat, melalui contoh konkret, bagaimana metode ini dapat menunjukkan kepada kita apa yang memiliki nilai atau tidak.

a. Love of luxur
Seseorang yang terpesona oleh kemewahan mungkin hanya menikmati banyak kesenangan yang mengkarakterisasi dunia kemewahan. Dalam hal ini, itu hanyalah hedonisme, yang memberi nilai pada kesenangan yang diberikan oleh barang-barang mewah, dan bukan pada objek-objek itu sendiri. Namun, apa yang ingin diperiksa adalah posisi aksiologi yang diadopsi oleh ‘pecinta kemewahan’, yaitu orang yang mencintai kemewahan itu sendiri, objek-objek itu sendiri, berlian itu sendiri – yaitu materialisme nilai.
b. Love of love
Terkadang dikatakan bahwa nilai tertinggi adalah cinta, dan yang terendah adalah kebalikannya, yaitu kebencian. Ini berarti bahwa seseorang tidak mencintai sesuatu itu sendiri, tetapi cinta itu sendiri. Namun, prinsip universalisasi mungkin menggagalkan doktrin aksiologi ini. Jika cinta itu sendiri diuniversalisasikan, kita akan mencintai segalanya, termasuk kejahatan, kekerasan, ketiadaan, dan akhirnya, kebencian itu sendiri.
c. Love of art
Terkadang dikatakan bahwa nilai tertinggi adalah cinta, dan yang terendah adalah kebalikannya, yaitu kebencian. Ini berarti bahwa seseorang tidak mencintai sesuatu itu sendiri, tetapi cinta itu sendiri. Namun, prinsip universalisasi mungkin menggagalkan doktrin aksiologi ini. Jika cinta itu sendiri diuniversalisasikan, kita akan mencintai segalanya, termasuk kejahatan, kekerasan, ketiadaan, dan akhirnya, kebencian itu sendiri.
d. Love of evil (the radical evil)
Seseorang yang kejam menikmati penderitaan orang lain, bukan penderitaannya sendiri. Dia mencintai kesenangan, bukan rasa sakit, yang hanyalah sarana untuk itu, dan bukan sesuatu yang dicintai itu sendiri. Selain itu, dia tidak mencintai penderitaan itu sendiri, tetapi penderitaan orang lain, dan cintanya akan menghilang jika diuniversalisasikan.

4/ Conclusion: about the analytical method

Metode analitis memungkinkan kita untuk melakukan penyelidikan aksiologi. Eksplorasi makna konsep cinta mengungkapkan bahwa konsep tersebut mengandung konsep hierarki sebagai kondisi esensial. Dalam konsep ini, beberapa hukum, seperti ‘prinsip lawan’ dan ‘prinsip universalisasi’, memungkinkan kita untuk menemukan beberapa sifat dari objek pencarian kita – nilai tertinggi.