Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Tujuan dari aksiologi adalah untuk memahami hakikat dan manfaat yang terdapat dalam suatu pengetahuan. Istilah “Aksiologi” berasal dari kata Yunani: “axion” yang berarti “nilai” dan “logos” yang berarti “teori”, sehingga dapat diartikan sebagai teori tentang nilai. Beberapa pertanyaan utama dalam aksiologi meliputi:

  1. Untuk apa pengetahuan ilmu itu digunakan?
  2. Bagaimana kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral?
  3. Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
  4. Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan profesional?

Dalam aksiologi, ada dua komponen mendasar, yaitu:

  • Etika (moralitas): Etika adalah cabang filsafat aksiologi yang membahas tentang masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada perilaku, norma, dan adat istiadat yang berlaku pada komunitas tertentu. Dalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku yang penuh dengan tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, alam, maupun terhadap Tuhan sebagai sang pencipta.
  • Estetika (keindahan): Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa di dalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis dalam satu kesatuan hubungan yang menyeluruh.

Ontologi adalah salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi ini membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Beberapa tokoh Yunani yang memiliki pandangan ontologis termasuk Thales, Plato, dan Aristoteles. Ontologi mempertanyakan hakikat kenyataan atau realitas, yang dapat didekati dari dua sudut pandang:

  1. Kuantitatif: Mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak.
  2. Kualitatif: Mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan atau bunga mawar yang berbau harum.

Secara sederhana, ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.

Etimologi: Ontologi berasal dari bahasa Yunani, dengan “òn” yang berarti “ada” atau “òntos” yang artinya “keberadaan”, dan “lògos” yang berarti “pemikiran”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ontologi didefinisikan sebagai cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan hakikat hidup. Webster’s Third New International Dictionary mendefinisikan ontologi sebagai ilmu cabang metafisika khusus yang mempelajari sifat dan hubungan makhluk.

Aliran Ontologi:

  1. Monisme: Mempercayai bahwa hakikat dari segala sesuatu yang ada adalah satu saja.
  2. Dualisme: Meyakini sumber asal segala sesuatu terdiri dari dua hakikat, yaitu materi (jasad) dan jasmani (spiritual).
  3. Materialisme: Menganggap bahwa yang ada hanyalah materi.
  4. Idealisme: Menganggap bahwa hakikat kenyataan berasal dari roh atau yang sejenis dengan itu.
  5. Agnostisisme: Mengingkari bahwa manusia mampu mengetahui hakikat yang ada.

Epistemologi (serapan dari bahasa Belanda: epistemologie) adalah cabang dari filsafat yang berkaitan dengan hakikat atau teori pengetahuan. Dalam bidang filsafat, epistemologi meliputi pembahasan tentang asal mula, sumber, ruang lingkup, nilai validitas, dan kebenaran dari pengetahuan. Epistemologi mempelajari tentang hakikat dari pengetahuan, justifikasi, dan rasionalitas keyakinan. Beberapa pertanyaan utama dalam epistemologi meliputi:

  • “Apa yang membuat kebenaran yang terjustifikasi dapat dijustifikasi?”
  • “Apa artinya apabila mengatakan bahwa seseorang mengetahui sesuatu?”
  • “Bagaimana kita tahu bahwa kita tahu?”

Istilah ‘Epistemologi’ diperkenalkan di bidang filosofis oleh filsuf Skotlandia James Frederick Ferrier pada tahun 1854. Namun, menurut Brett Warren, Raja James VI dari Skotlandia sebelumnya telah mempergunakan konsep filosofis ini dan menggunakannya sebagai personifikasi, dengan istilah Epistemon, pada tahun 1591.

Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Yunani klasik “epistēmē” yang berarti “pengetahuan” dan “logos” yang berarti penjelasan atau ilmu. Jadi, epistemologi adalah “the theory of knowledge” atau teori pengetahuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), epistemologi didefinisikan sebagai cabang ilmu filsafat tentang dasar dan batas pengetahuan.