Part 1: The Changing Context of Primary Teacher Education

memberikan gambaran umum tentang lanskap pendidikan guru saat ini, bagaimana berbagai entitas berinteraksi, dan bagaimana perubahan dalam kebijakan dan praktik mempengaruhi profesional di lapangan.

1. Changing Teacher Education—Genuine Partnership or Arranged Marriage? oleh Rob Hyland dan Glynis Wood: 

Bab ini membahas perubahan dalam pendidikan guru dan bagaimana hubungan antara berbagai pemangku kepentingan dalam pendidikan guru berkembang. Ada pertanyaan tentang apakah kerjasama yang terjadi adalah kemitraan yang otentik atau hanya semacam “-pernikahan yang diatur-” (Arranged Marriage). Bab ini juga mengeksplorasi bagaimana reformasi pemerintah telah mempengaruhi pendidikan guru dan bagaimana para profesional di lapangan merespons perubahan tersebut.

Dalam semua diskusi dan proposal untuk meningkatkan persiapan awal calon guru, konsep ‘kemitraan’ antara sekolah dan pendidikan tinggi seringkali menjadi fokus. Meskipun kemitraan sering kali dianggap sebagai solusi ideal, bab ini menantang apakah kemitraan yang terjadi benar-benar otentik atau hanya semacam “pernikahan yang diatur”. Ada kekhawatiran bahwa istilah ‘kemitraan’ mungkin telah digunakan sebagai alat retorika, yang menyembunyikan penerapan kontrol politik dari pusat.

Bab ini menekankan bahwa sekolah dan institusi pendidikan tinggi memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi dalam pendidikan guru. Sekolah memiliki tanggung jawab utama untuk mendidik siswa mereka, sementara institusi pendidikan tinggi bertanggung jawab untuk pelatihan guru yang efektif.

Ada diskusi tentang bagaimana reformasi pemerintah telah mempengaruhi pendidikan guru. Misalnya, Kenneth Clarke, Sekretaris Negara, dalam pidatonya pada tahun 1992, menekankan bahwa calon guru memerlukan lebih banyak waktu di kelas (sekolah) dengan bimbingan dari guru yang sedang bertugas (atau saat praktek di sekolah) dibandingkan dengan waktu di perguruan tingginya.

Meskipun ada banyak perubahan dan tantangan, komitmen profesional dari guru pembimbing yang terlibat langsung di sekolah dan dosen pembimbing di institusi pendidikan tinggi harus tetap kuat. Tanpa komitmen semacam itu, reformasi yang diberlakukan oleh pemerintah mungkin akan membuat sistem pendidikan guru runtuh.


2. The Teacher Training Agency, Higher Education and the Professionalism of Initial Teacher Educators oleh Kate Jacques: 

Bab ini fokus pada Teacher Training Agency, pendidikan tinggi, dan profesionalisme pendidik guru awal. Bab ini mengeksplorasi bagaimana agensi dan institusi pendidikan tinggi berinteraksi dan bagaimana mereka mempengaruhi profesionalisme dalam pendidikan guru. Ada diskusi tentang bagaimana pendidikan guru dilihat sebagai profesi dan bagaimana berbagai kebijakan dan inisiatif mempengaruhi persepsi tersebut. Bab ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh pendidik guru dan bagaimana mereka beradaptasi dengan perubahan dalam lanskap pendidikan.

Mengajar dianggap sebagai profesi fundamental. Tanpa mengajar, tidak akan ada profesi lain. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menghargai dan mendukung profesi ini.

Teacher Training Agency (TTA) didirikan pada 21 September 1994 dengan tujuan utama untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan standar pendidikan guru. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk mempromosikan pengajaran sebagai profesi. Dalam mencapai tujuan ini, TTA telah mengambil berbagai inisiatif untuk meningkatkan standar dan kualitas pendidikan guru.

Dalam bab ini, ada diskusi tentang bagaimana pendidikan guru dilihat sebagai profesi. Meskipun ada upaya untuk meningkatkan status profesional guru, ada tantangan yang dihadapi, termasuk intervensi pemerintah yang berkelanjutan, perubahan dalam standar dan kriteria, serta tekanan untuk memenuhi standar dan kompetensi tertentu.

Sejak berdirinya TTA, telah ada banyak inisiatif yang diperkenalkan yang berdampak pada cara pendidikan guru disampaikan dan dinilai. Ini mencakup perubahan dalam kurikulum, metode penilaian, dan kriteria untuk pendidikan guru.

Pendidik guru menghadapi tantangan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Meskipun ada tekanan untuk memenuhi standar dan kriteria baru, penting bagi pendidik guru untuk mempertahankan komitmen profesional mereka dan tetap fokus pada tujuan utama mereka, yaitu mempersiapkan generasi guru berikutnya.

Bab ini menyoroti bagaimana berbagai kebijakan dan inisiatif mempengaruhi pendidikan guru dan bagaimana para profesional di lapangan merespons perubahan tersebut. Ada pengakuan tentang pentingnya profesionalisme dalam pendidikan guru dan kebutuhan untuk mendukung dan mempromosikan ini di tengah-tengah tantangan yang ada.


3. Primary Teaching: High Status? High Standards? A Personal Response to Recent Initiatives oleh Colin Richards: 

Bab ini memberikan respons pribadi terhadap inisiatif terbaru dalam pengajaran dasar. Ada pertanyaan tentang apakah pengajaran dasar memiliki status tinggi dan standar yang tinggi. Bab ini mengeksplorasi bagaimana standar di sekolah dasar dan pendidikan guru dinilai dan bagaimana berbagai inisiatif pemerintah mempengaruhi persepsi dan realitas tersebut. Bab ini juga menyoroti bagaimana asumsi tentang standar dalam pendidikan dasar dan pendidikan guru dapat mempengaruhi kebijakan dan praktik.

Bab ini dimulai dengan kutipan dari “Alice in Wonderland” oleh Lewis Carroll, yang menggambarkan pendidikan dengan cara yang agak satir. Kutipan ini mungkin digunakan untuk menggambarkan bagaimana pendidikan guru dan pendidikan dasar saat ini mungkin terasa absurd atau tidak masuk akal bagi beberapa orang.

Bab ini menyoroti bagaimana, sebelum dan setelah publikasi White Paper 1997, “Excellence in Schools“, ada komponen-komponen utama yang menjadi bagian dari kurikulum inti untuk pendidikan guru awal. Beberapa komponen ini termasuk “Reeling and Writhing” dan “Ambition, Distraction, Uglification, and Derision”, yang mungkin digunakan sebagai metafora untuk tantangan dan isu-isu dalam pendidikan guru.

Bab ini menekankan bagaimana pernyataan retorik tentang meningkatkan standar dan status guru sering kali bertentangan dengan realitas di lapangan. Meskipun ada dukungan universal untuk meningkatkan standar pendidikan dan pengajaran, ada tantangan nyata dalam menerapkan perubahan ini.

Bab ini juga menyoroti bagaimana berbagai inisiatif, seperti yang diperkenalkan oleh Teacher Training Agency (TTA) dan kebijakan pemerintah lainnya, telah mempengaruhi pendidikan guru. Ada kekhawatiran bahwa kritik terhadap sekolah dasar dan cara mereka mengajarkan keterampilan dasar telah digunakan untuk mengkritik institusi yang menyediakan pendidikan guru.

Bab ini juga mencakup diskusi tentang apakah seharusnya ada kurikulum nasional untuk pendidikan guru dasar dan bagaimana hal itu mungkin mempengaruhi kualitas dan isi dari program pendidikan guru.

bab ini memberikan pandangan kritis tentang bagaimana pendidikan guru dan pengajaran dasar dilihat dan dinilai dalam konteks inisiatif dan kebijakan terbaru. Ada penekanan pada kebutuhan untuk melihat lebih dalam dan mempertanyakan asumsi dan retorika yang sering kali mengelilingi diskusi tentang pendidikan guru.


Baca ulasan kami selanjutnya untuk Buku ini :

Part 2: A New National Curriculum for Primary Initial Teacher Education

Part 3: Pedagogy in Initial Teacher Education

Part 4: Emerging Issues in Mentoring

Part 5: Beyond Initial Teacher Education

Part 6: Primary Education and Primary Teacher Education