Part I: Trajectory of AI. From Statistics and Machine Learning to Deep Learning

  • Bagian ini membahas evolusi kecerdasan buatan (AI) dari pendekatan statistik tradisional hingga pembelajaran mesin, dan akhirnya ke deep learning.
  • Salah satu sub-bab yang ditemukan adalah “Understanding Machine Learning Through Data-Oriented and Human Learning Approaches” oleh Sahar Behpour dan Avi Udash. Sub-bab ini membahas bagaimana mesin belajar melalui pendekatan yang berorientasi pada data dan bagaimana pendekatan ini mirip dengan cara manusia belajar.
  • AI telah berusaha konsisten untuk meniru kecerdasan manusia untuk melakukan tugas-tugas seperti pengenalan fitur dan pengambilan keputusan. Ada referensi ke “Alexnet” yang, dengan inspirasi dari neuroscience, berhasil mengalahkan kompetisi dalam mengenali objek dalam gambar. Ini menandai perubahan signifikan dalam cara AI dikembangkan dan digunakan.
  • Bagian ini juga membahas mengapa jaringan saraf (neural networks) dianggap sebagai teknologi terkini dalam deep learning. Jaringan saraf tiruan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi objek, seperti wajah, melalui penggunaan berbagai lapisan jaringan.

Part II: Enhancing Human Intelligence Through AI

  • Bagian ini menyoroti bagaimana Kecerdasan Buatan (AI) mengubah hubungan esensial antara teknologi dan manusia, serta bagaimana AI membentuk kembali ekosistem pendidikan. AI telah menjadi fokus utama bagi perusahaan teknologi multinasional, departemen pendidikan, dan pemerintah di seluruh dunia.
  • Salah satu sub-bab yang ditemukan adalah “AI-Enhanced Education: Teaching and Learning Reimagined” oleh Nanxi Meng, Tetyana K. Dhimolea, dan Zain Ali. Sub-bab ini menekankan mengapa AI penting dalam pendidikan dan bagaimana AI dapat mengubah cara pendidikan disampaikan dan diterima.
  • Ada juga diskusi tentang bagaimana AI dapat digunakan untuk mendukung kesejahteraan sosial dan emosional, serta bagaimana realitas virtual dapat mempengaruhi konektivitas atau isolasi siswa.
  • Sub-bab lainnya, “Augmented Intelligence: Enhancing Human Decision Making” oleh Justin Kim, Taylor Davis, dan Lingzi Hong, membahas bagaimana kecerdasan tambahan atau augmented intelligence bekerja sama dengan manusia untuk meningkatkan kinerja kognitif, termasuk memori, pembelajaran, dan pengambilan keputusan.
  • Selain itu, ada diskusi tentang bagaimana teknologi dapat diintegrasikan ke dalam pengalaman manusia melalui sistem cybernetic dan bagaimana AI dapat mendukung pemikiran kritis.

Part III: How Artificial Intelligence Imitates Human Neuroanatomy

  • Bagian ini mengeksplorasi bagaimana kecerdasan buatan (AI) meniru neuroanatomi manusia, khususnya dalam konteks pengolahan visual dan memori.
  • Salah satu sub-bab yang ditemukan adalah “Early Visual Processing: A Computational Approach to Understanding Primary Visual Cortex” yang membahas bagaimana AI dapat meniru proses pengolahan visual awal yang terjadi di korteks visual primer manusia. Ini mencakup bagaimana foton cahaya dipecah menjadi data, ekstraksi fitur seperti kontur, dan penggabungan gambar untuk membuat dunia 3D.
  • Ada juga diskusi tentang bagaimana AI telah berusaha meniru otak manusia dengan menggunakan algoritma untuk mengenali hubungan elemen di sejumlah besar data. Misalnya, bagaimana jaringan saraf tiruan dapat dilatih untuk mengenali berbagai pola, termasuk tugas-tugas penting seperti mengenali perkembangan bidang visual.
  • Selain itu, bagian ini juga membahas bagaimana pendekatan biomimetik, terutama melalui peniruan hipokampus manusia, dapat meningkatkan memori komputer dan bagaimana ini dapat mempengaruhi masa depan masyarakat.

Part IV: Understanding the Effects of Artificial Intelligence

  • Bagian ini membahas dampak dan implikasi dari kecerdasan buatan (AI) di berbagai sektor, termasuk dampaknya pada pekerjaan, pendidikan, dan interaksi sosial.
  • Ada kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan pekerjaan, terutama dengan investasi besar-besaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat dalam teknologi AI. Namun, ada juga pandangan bahwa meskipun AI mungkin membuat beberapa pekerjaan menjadi usang, pertumbuhan pekerjaan di tempat lain dalam ekonomi dapat menyeimbangkannya.
  • Salah satu contoh dari AI dalam interaksi sosial adalah ELIZA, program pemrosesan bahasa alami yang dikembangkan oleh Joseph Weizenbaum dari MIT Artificial Intelligence Laboratory. Meskipun ELIZA tidak memiliki pemahaman sejati, banyak pengguna awal yang yakin sebaliknya.
  • Ada juga diskusi tentang bagaimana AI dapat mendukung kesejahteraan sosial dan emosional. Meskipun chatbot terapeutik dan agen percakapan virtual lainnya mudah diakses bagi siapa saja yang memiliki smartphone, robot sosial lebih sulit dan lebih mahal untuk diperoleh.
  • Selain itu, bagian ini juga membahas tentang bagaimana AI dapat mempengaruhi pendidikan, dengan fokus pada bagaimana AI dapat diintegrasikan ke dalam pengalaman manusia melalui sistem cybernetic.

Cybernetic Systems: Technology Embedded into the Human Experience

  • Cybernetic systems didefinisikan dengan memiliki dua feedback loop. Satu memungkinkan sistem untuk beradaptasi dan belajar, sementara yang lain membuat penyesuaian kecil yang membantu pembelajaran menjadi mungkin. Sebuah feedback loop ketiga, yang kurang esensial, juga digunakan kurang sering dengan indera manusia yang perlu menggantikan informasi lama dengan informasi baru untuk memungkinkan sistem beradaptasi. Sistem cybernetik didasarkan pada mekanisme umpan balik di intinya dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan organisme hidup melalui mesin.
  • Sistem cybernetik memiliki potensi untuk merevolusi industri kesehatan, bagian biomekanik, dan komunikasi dalam sistem hidup. Namun, sistem cybernetik saat ini belum sepenuhnya tersedia di pasar komersial; mereka masih tetap menjadi topik penelitian dengan sedikit prototipe.
  • Salah satu revolusi terbaru dalam industri cybernetik adalah Neuralink Corporation, yang memanfaatkan volume data besar yang dapat dikumpulkannya untuk bekerja pada kemajuan medis dalam bidang neurologi.
  • Cybernetics, seperti yang didefinisikan oleh Norbert Wiener, adalah “ilmu tentang kontrol dan komunikasi dalam hewan dan mesin”. Bidang ini yang berkembang pesat mendorong batas-batas ilmu pengetahuan dan kedokteran seperti yang kita ketahui saat ini. Dari neuroprosthetics dan organ buatan lainnya yang didorong oleh data hingga sistem robotik, sistem cybernetik mencakup kemungkinan yang terjadi pada persimpangan langsung sistem komputer dan manusia.
  • Penerimaan dan penggunaan sistem cybernetik oleh manusia kemungkinan akan multi-fase, di mana fase awal akan fokus pada rekondisi manusia seperti retina buatan dan prostetik lainnya seperti Neuralink. Kemudian, akan diikuti oleh peningkatan manusia di mana kita mungkin dapat menggunakan sistem untuk meningkatkan kognisi manusia.