1. Kondisioning Klasik (Classical Conditioning)
Kondisioning klasik, juga dikenal sebagai kondisioning Pavlovian atau respons kondisional, adalah teknik pembelajaran di mana stimulus netral dikaitkan dengan stimulus lain yang secara alami menghasilkan respons. Setelah berulang kali dikaitkan, stimulus netral akan mulai menghasilkan respons yang sama.
Contoh: Seorang ilmuwan bernama Ivan Pavlov melakukan eksperimen dengan anjing. Dia memperhatikan bahwa anjing akan mengeluarkan air liur saat melihat makanan. Dalam eksperimen, Pavlov menggunakan bel sebagai stimulus netral. Setiap kali bel berbunyi, anjing diberi makan. Setelah beberapa kali pengulangan, anjing mulai mengeluarkan air liur hanya dengan mendengar bel, meskipun tidak ada makanan yang diberikan. Dalam hal ini, bel telah menjadi stimulus kondisional yang menghasilkan respons kondisional (air liur).
2. Kondisioning Operan (Operant Conditioning)
Kondisioning operan, yang diperkenalkan oleh B.F. Skinner, adalah metode pembelajaran di mana perilaku diperkuat atau dikenai hukuman melalui konsekuensi. Ada empat tipe dasar dari kondisioning operan:
- Penguatan Positif: Menambahkan stimulus positif setelah perilaku tertentu untuk meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut terjadi lagi. Contoh: Memberi hadiah kepada siswa yang mendapat nilai bagus.
- Penguatan Negatif: Menghilangkan stimulus negatif setelah perilaku tertentu untuk meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut terjadi lagi. Contoh: Mematikan alarm yang berisik setelah bangun tidur tepat waktu.
- Hukuman Positif: Menambahkan stimulus negatif setelah perilaku tertentu untuk mengurangi kemungkinan perilaku tersebut terjadi lagi. Contoh: Memberi tugas tambahan kepada siswa yang berperilaku buruk.
- Hukuman Negatif: Menghilangkan stimulus positif setelah perilaku tertentu untuk mengurangi kemungkinan perilaku tersebut terjadi lagi. Contoh: Mengambil mainan dari anak yang tidak berbagi.
